Siti Fauziah
Ingin Mengajak Remaja Senang Musik Islami

Siti Fauziah (Nadhiroh/JIBI/SOLOPOS)Siti Fauziah (Nadhiroh/JIBI/SOLOPOS)

Punya suara merdu ternyata kadang-kadang membuat seseorang kurang nyaman. Seperti yang dialami salah satu vokalis Jamaah Muji Rosul Putri (Jamuri), Siti Fauziah. Perempuan yang akrab disapa Fauziah itu pernah merasa kurang berkenan karena sering diminta memimpin pembacaan selawat.

Wanita kelahiran Madiun, 16 Februari 1967 itu menganggap dengan makin sering tampil, ada kemungkinan banyak orang-orang yang kurang suka dengan kehadirannya.

“Saya tidak mau mengunggulkan diri sendiri. Orang lain yang justru sering menyuruh saya maju,” kata Fauziah saat ditemui Solopos.com di kos-kosannya di Kemasan, Tipes, Serengan, Solo, Rabu (25/7/2012).

Anak keempat dari delapan bersaudara pasangan suami istri almarhum Mustofa dan Siti Zuhra ini kerap didaulat tampil memimpin selawat karena memiliki suara yang enak didengar. Ada dua lagu favoritnya yaitu Sholawat Badar  dan Alasyan Quran. Fauziah tak menampik permintaan Solopos.com ntuk menyenandungkan beberapa bait dari kedua lagu itu.

Alumnus SD Pesantren Sabili Muttaqin (PSM) itu menyebutkan kemampuannya di dunia tarik suara tidak terlepas dari peran ayahndanya yang seorang qari. Bakatnya sudah terasah sejak kecil.

Dia pernah menyabet juara I sampai III lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dari tingkat anak-anak, remaja dan dewasa di tingkat Madiun. Di Solo, lulusan SMPN 4 Madiun dan SMA Cokroaminoto itu juga pernah meraih prestasi sebagai vokalis terbaik se-Solo pada ajang lomba hadrah.

“Tahunnya lupa. Piala-pialanya sudah dibawa ke Madiun,” tambahnya sembari tersenyum.
Istri almarhum Abdul Karim ini pun ikut mengantarkan grup hadrahnya meraih berbagai penghargaan mulai dari tingkat Solo hingga nasional.

Ibunda Siti Fatimah, Hafidzotul Karimah, Muhammad Ulinnuha dan Amira Nawal Fariha itu sehari-hari begitu padat dengan agenda mengajar Alquran dan berselawat. Selain rutin berlatih di Jamuri, nenek Putri Bilfah El Karima itu mengajar di TK Tausan Land di Telukan, Sukoharjo, di sejumlah les-les mengaji seperti di wilayah Solo Baru, Gentan, Kwarasan dan sebagainya. Ia pun menjadi pelatih hadrah di SD Darussalam Jayengan, Serengan, Solo.

“Saya ingin mengajak anak-anak dan remaja senang dengan musik-musik Islami. Di hadrah, sekarang variasinya banyak,” lanjutnya.

Menurut dia, regenerasi perlu dilakukan guna menggantikan yang sudah tua-tua. Untuk itulah dirinya pernah mengusulkan agar Jamuri mengadakan lomba hadrah dan nantinya bisa diseleksi serta dicari vokalis terbaik.

Berbagai undangan akikah, nikah dan lain-lain membuat agenda Fauziah kian padat. Meski sebenarnya merasa capai, dia mengaku tetap senang.

“Tiap Bulan Mulud, Jamuri keliling selawatan satu bulan. Tidak hanya di Solo, kadang tampil di Klaten, Boyolali dan wilayah Soloraya lainnya. Meski suara sudah agak serak-serak tapi kalau sudah berselawat rasanya semangat lagi. Segala masalah jadi hilang dan plong,” imbuhnya.

Di dalam mengajar Alquran, Fauziyah harus berusaha sabar. Sebab muridnya bermacam-macam, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Butuh ketelatenan ketika menyampaikan ilmu tajwid kepada orang-orang dewasa karena kadang-kadang mereka lupa dengan yang sudah diajarkan. Begitu pun dengan anak-anak yang masih butuh diarahkan.

“Ada anak yang masih berumur empat tahun dan kalau ngaji belum bisa tenang. Kalau ngajar harus sabar,” kata dia.

Nadhiroh/JIBI/SOLOPOS

Editor: | dalam: Tokoh |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »