Kresss, Renyahnya Kripik Ceker dari Klaten Ini!

Suhardi tengah menguliti ceker ayam untuk dijadikan kripik ceker. Pada bulan puasa Ramdhan dan menjelang Lebaran pesanan kripik ceker biasanya meningkat. (JIBI/SOLOPOS/Farid Syafrodhi)Suhardi tengah menguliti ceker ayam untuk dijadikan kripik ceker. Pada bulan puasa Ramdhan dan menjelang Lebaran pesanan kripik ceker biasanya meningkat. (JIBI/SOLOPOS/Farid Syafrodhi)

Pagi hari, Suhardi sudah disibukkan menguliti ceker ayam di depan rumahnya di Gang Latar Putih, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah. Satu per satu, ratusan ceker ayam di hadapannya ia kuliti menggunakan pisau. Ia memisahkan tulang dengan kulit ceker.

Tulang yang agak besar diambil begitu saja dengan tangan kosong. Sedangkan tulang ceker yang kecil harus digecok terlebih dahulu menggunakan palu, baru diambil tulangnya. Pagi itu, Suhardi sedang mengerjakan pesanan pembuatan keripik ceker ayam dari luar kota, seperti Temanggung, Semarang, Bandung dan Jogjakarta.

Setelah dikuliti, kulit ceker ayam dijemur. “Untungnya saat ini tidak sering turun hujan. Kalau sering turun hujan, saya harus mengeringkan ceker ayam dengan pemanas oven. Kalau pakai oven, harus menambah biaya lagi,” ujar Suhardi. Ia mengambil ceker ayam tersebut dari tetangganya, Ratih Sarwo Endah, yang menjadi pengusaha keripik ceker ayam. Sedangkan Ratih mengambil ceker ayam tersebut dari peternakan ayam di Bantul, DIY.

Mendekati Lebaran, menurut Ratih, permintaan keripik ceker ayam khas Klaten itu naik hingga 100 persen. Biasanya dalam sepekan hanya habis satu kuintal keripik ceker. Sedangkan sepekan terakhir, permintaan naik menjadi dua kuintal dalam sepekan. “Kami sampai kewalahan melayani permintaan dari luar kota, karena bahan bakunya terbatas,” ujar Ratih saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin pagi.

Ia membeli ceker ayam sayur dari Bantul Rp13.000 per kilogram (kg). Untuk enam kilogram ceker ayam yang belum dikuliti, setidaknya bisa menghasilkan satu kilogram keripik ceker kering. Namun karena bahan baku ceker ayam dan minyak goreng naik, terpaksa ia juga menaikkan harga jual keripik ceker ayamnya. Apalagi, imbuh Ratih, proses penggorengan ceker ayam itu dilakukan dua kali.

Proses penggorengan pertama untuk mengeringkan kulit luar. Sedangkan proses penggorengan kedua untuk mengeringkan kulit bagian dalam ceker. “Selama lima tahun terakhir, harga saya pertahankan Rp100.000 per kilogram. Tapi mulai sepekan terakhir harganya saya naikkan jadi Rp110.000,” ujar Ratih.

Editor: | dalam: Klaten |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »