Lifestyle
Selasa, 26 Juni 2012 - 11:16 WIB

KERATON SURAKARTA: Menari Jadi Kewajiban

Redaksi Solopos.com  /  Is Ariyanto  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - BEDAYA KETAWANG - Para penari membawakan tarian sakral Bedaya Ketawang di depan PB XIII Hangabei saat acara Tingalan Jumenengan Dalem SISKS PB XII di Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat, Jumat (15/6/2012). (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/SOLOPOS)

BEDAYA KETAWANG - Para penari membawakan tarian sakral Bedaya Ketawang di depan PB XIII Hangabei saat acara Tingalan Jumenengan Dalem SISKS PB XII di Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat, Jumat (15/6/2012). (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/SOLOPOS)

Pelajaran tari, karawitan maupun kebudayaan yang lain menjadi makanan sehari-hari bagi keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Bahkan, menari adalah sesuatu yang wajib. BRM Suryo Triono mengakui hal itu. Bahkan hingga kini, dia masih rutin menari setiap Minggu. Salah satu tarian yang digemari lelaki yang ingin bekerja di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ini adalah Tari Ramayana. “Sampai sekarang saya masih rutin menari setiap Minggu. Sedangkan belajar menembang maupun karawitan itu menjadi sekadar hobi karena saya kuliah di Sastra. Jadi minimal saya harus kenal dan bisa. Belajar kesenian dan kebudayaan itu menjadi kewajiban bagi keluarga Keraton,” tuturnya.

Advertisement

Selain sebagai sebuah kewajiban, alasan Suryo belajar menari adalah ingin mengenalkan kebudayaan dan kesenian kepada masyarakat. Meski demikian, dia terkendala sistem yang belum memperbolehkan beberapa jenis tarian ditampilkan di hadapan umum.

“Saya hidup di lingkungan budaya maka kegiatan tersebut menjadi penting. Saya juga ingin mengenalkan ke masyarakat. Supaya masyarakat lebih mengenal lagi tentang kebudayaan mereka sendiri yang mempunyai nilai tinggi. Ke depan, budaya kita dapat menjadi salah satu kebudayaan yang disegani nasional maupun internasional,” kata dia.

Anak muda lainnya, RT Dityo Ramadhani mengaku gemar bermain karawitan walaupun kuliahnya padat. Alasan nguri-nguri kebudayaan Jawa menjadi salah satu pendorong. “Saya senang karawitan. Lagi pula, kebudayaan itu pantas dilestarikan. Kalau bukan kita generasi muda, lalu siapa lagi,” ungkap anggota kelompok Remaja Solo Melek Sejarah (Jas Merah).

Advertisement

Dia bergabung dengan Jas Merah karena memiliki visi sama yakni memahami sejarah Jawa. Dityo berharap langkah kecil itu mampu mewujudkan mimpi yang lebih besar. “Solo bisa dipandang orang dari (tingkat) nasional maupun internasional karena nilai-nilai budaya dan sejarahnya.” 

 

 

Advertisement

 

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif