KONFLIK KERATON SOLO
DPRD Nilai Memalukan

KONFLIK -- KP Satryo Hadinegoro (kiri) bersitegang dengan KGPHPA Tedjowulan saat berupaya menghalangi masuknya PB XIII Hangabehi ke dalam kompleks Keraton Solo melalui Kori Kamandungan. Konflik yang merebak kembali di lingkup keluarga keraton Solo menimbulkan keprihatinan banyak pihak. (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)KONFLIK -- KP Satryo Hadinegoro (kiri) bersitegang dengan KGPHPA Tedjowulan saat berupaya menghalangi masuknya PB XIII Hangabehi ke dalam kompleks Keraton Solo melalui Kori Kamandungan. Konflik yang merebak kembali di lingkup keluarga keraton Solo menimbulkan keprihatinan banyak pihak. (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)

KONFLIK -- KP Satryo Hadinegoro (kiri) bersitegang dengan KGPHPA Tedjowulan saat berupaya menghalangi masuknya PB XIII Hangabehi ke dalam kompleks Keraton Solo melalui Kori Kamandungan. Konflik yang merebak kembali di lingkup keluarga keraton Solo menimbulkan keprihatinan banyak pihak. (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)

SOLO – DPRD Solo ikut angkat bicara terkait masih bergulirnya konflik di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ketua DPRD Kota Solo, YF Sukasno, mengaku pihaknya sangat menyesalkan adanya konflik berkepanjangan di Keraton Surakarta tersebut.

“Kalau ontran-ontran (huru-hara-red) Keraton itu sampai tidak selesai, maka menurut saya itu sudah ngisin-isini (memalukan-red) masyarakat Solo secara luas. Karena Keraton yang selama ini dibanggakan oleh masyarakat Solo sebagai tuk sumbering budaya kautaman, tata krama, unggah-ungguh, muna-muni, ternyata semacam ini, tidak bisa mengelola konflik dengan baik. Jadi saya sangat menyesalkan,” papar Sukasno ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (29/5/2012).

Menurut Sukasno, DPRD maupun Pemkot sebenarnya sudah mengambil sejumlah langkah untuk memfasilitasi penyelesaian konflik Keraton tersebut. “Tapi itu kan kembali lagi kepada niat internal personel di Keraton seperti apa. Kalau DPRD dan Pemkot hanya sebatas memfasilitasi,” katanya.

Sukasno mempertanyakan apa yang sebenarnya dicari oleh pihak-pihak yang terus memunculkan sejumlah persoalan di lingkungan Keraton. “Kalau itu bicara tentang angger-angger dan sebagainya, wong Gusti Maha Agung saja Maha Memaafkan kok? Mengapa ini antara satu dengan yang lainnya tidak saling memahami dan memaafkan? Kalau seperti ini, mau bagaimana? Kondisi seperti ini menurut saya sebagai masyarakat Solo yang selama ini bangga dengan keberadaan Keraton, ya marakne nggrantes (membuat sedih-red),” ungkapnya.

Namun menyikapi persoalan tersebut, Sukasno mengajak seluruh masyarakat Kota Solo untuk berdoa bersama dan berharap agar berbagai permasalahan yang menyelimuti Keraton segera terselesaikan dengan baik. “Akhirnya saya mengharapkan seluruh masyarakat Solo berdoa bersama. Agar sapa sing salah bakal seleh (siapa yang salah akan sadar-red). Kita tunggu babaring (akhir cerita-red) Keraton itu nantinya seperti apa,” pungkasnya.

Editor: | dalam: Solo |

4 Komentar pada “KONFLIK KERATON SOLO: DPRD Nilai Memalukan”

  1. ayokajah
    30 Mei 2012 pukul 08:23

    wahwahawahawah jan ngisinisine….kraton dah g bsa buat suri toladan kedepannya klo kasus itu berlarut2….

  2. Pangeran Sanggabhuwana
    30 Mei 2012 pukul 09:50

    Menurut saya kok sebenarnya masalah sudah selesai , dulu ada dua Raja, sekarang damai dan lebur jadi satu atas fasilitas dan dukungan pemerintah, tidak ada lagi dua raja, sudah terjadi rekonsiliasi, jadi masalah sudah selesai, bila ada yang memberontak atau mbalelo , itu masalah internal keraton, PR bagi raja dan mahapatihnya, biarkan diputuskan beliau berdua secara tegas. DPRD dan walikota berhak memperingatkan pihak yang anti rekonsiliasi agar mendukung langkah pemerintah yang sudah berupaya memfasilitasi rekonsiliasi tersebut termasuk menyiapkan proses hukum bila para pemberontak tetap ngotot

  3. Anggoro
    30 Mei 2012 pukul 15:55

    Aku isin yen ngene iki,jare wong Sala kuwi luhur bebudene, jebul priyayi luhur kok mung tekan semono pribadine, trah Kraton kok kaya cah angon..

  4. priyono
    31 Mei 2012 pukul 07:35

    Wis .. wis. Ojo podho ngedumel. Sudah lama paugeran kraton tidak lagi dijadikan pegangan. Ingat … Jupe, Manohara, Syahrini dianugerahi gelar bangsawan… !!! Kejadian itu merupakan pertanda “ketidak-beresan”. Jadi kisruh yang sekarang ini tidak perlu kita perdebatkan lagi.

Silahkan bergabung untuk diskusi

Email anda tidak akan dipublikasikan.

Iklan Baris
  • RUMAH DIKONTRAKKAN

    Rumah Dikontrakkan,LT 254M2,LB 225M2,7Kmr,3K Mandi, Garasi, Jl.Kencur No.48, Rt 03/11, Kag…

Menarik Juga »