KONFLIK KRATON, Koes Indriyah
Kakak Saya Telah Dimanipulasi

(Suharsih/JIBI/SOLOPOS)(Suharsih/JIBI/SOLOPOS)

(Suharsih/JIBI/SOLOPOS)

SOLO – salah seorang adik kandung PB XIII Hangabehi, GRAy Koes Indriyah menegaskan, persoalan antara Hangabehi dan Tedjowulan adalah masalah internal keluarga. Sehingga pihak luar dia nilai tidak berhak mencampuri.

Menurut dia, apa yang terjadi di Jakarta antara PB XIII Hangabehi dan Tedjowulan itu hanyalah pertemuan biasa dan atas keinginan satu pihak.

“Telah terjadi manipulasi terhadap kakak saya (Hangabehi-red). Sungguh tidak logis bila raja melakukan pertemuan seperti itu di luar lingkungan Keraton. Itu melanggar hukum adat,” papar Koes Indriyah saat jumpa pers di Kusumo Wandowo, kompleks Keraton Kasunanan, Jumat (18/5/2012).

GRAy Koes Indriyah menambahkan pihaknya menolak menyebut pertemuan Hangabehhi-Tedjowulan di Jakarta, Rabu malam lalu sebagai rekonsiliasi. “Saya menyebut ini pertemuan, bukan rekonsiliasi, sebab rekonsiliasi itu sebelumnya pernah terjadi,” ujarnya.

Dalam rekonsiliasi waktu itu, lanjut Koes Indriyah, telah disepakati Tedjowulan tidak akan memakai gelar Sinuhun PB XIII. “Tapi kenyataan dia mengingkari kan?” imbuhnya.

Mengenai kesepakatan yang ditandatangani Hangabehi dan Tedjowulan, Koes Indriyah mengaku tidak tahu isinya. Pihaknya juga tidak mau menebak-nebak.

Dia hanya mengimbau pihak-pihak yang terlibat agar tidak memperkeruh suasana. Pihaknya menilai pertemuan di Jakarta itu
Menurut Koes Indriyah, bagi kalangan sentana, persoalan antara Hangabehi dan Tedjowulan adalah masalah internal keluarga. 

Editor: | dalam: Solo |

17 Komentar pada “KONFLIK KRATON, Koes Indriyah: Kakak Saya Telah Dimanipulasi”

  1. 19 Mei 2012 pukul 01:25

    Sebenarnya rukun itu baik..lagian keraton itu kan bukan punya segelintir orang,,indriah itu piye tho kkarepe? Dulu di tatar pancasila pora? Koyo keraton punya grup dia aja,,sentono juga memiliki..koyo cah joss wae..yu…yu..

    • resa
      21 Mei 2012 pukul 22:38

      tejowulan kuwi ambisius ora apik yen dadi panutan,hangabebi iku bakal diperalat karo tejowulan cs, sing arahe tejowulan arep kuasi kraton he ojo podo kepincut karo politik kotore tejowulan sak cs cse

  2. pengamat
    19 Mei 2012 pukul 13:30

    Bagaimana bisa dimanipulasi orang lain wong selama 8 tahun ini kamu sendiri yang menipulasi Sinuwun demi kehidupan kamu pribadi.Dijadikannya Puger sebagai pelaksana Raja itu semata mata hanya untuk meresmikan “nunut urip”nya dia di kraton selama ini. Malu ah!

  3. sukma.sejati
    19 Mei 2012 pukul 13:38

    Ini memang urusan keluarga tak ada hubunganya dengan orang luar keraton karena ini urusan hasrat pribadi putra putra PB akan Warisan yang ditinggalkan Beliau. Sayangnya mereka tak mewarisi Kebijakansanaan dan Kearifan yang dimiliki Leluhur mereka. MEREKA LUPA selama masih memakai gelar Kerajaan Mereka punya tanggung jawab moral yang sangat besar sebagi Pusat Budaya Surakara Hadiningrat Terlebih sebagai manifestasi Keluhuran Leluhur mereka.

  4. sukma.sejati
    19 Mei 2012 pukul 13:46

    Sebagai orang jawa yang berjiwa jawa berbagai peristiwa yang terjadi diKeraton surakarta Adalah Isyarat. Surakarta kushusnya Sala memasuki fase yang memprihatinkan jari telunjuk bisa memicu api.

  5. widoyo
    19 Mei 2012 pukul 16:36

    Ternyata maksud baik selamanya tidak selamanya menghasilkan yg baik, buktinya malah dicurigai oleh internal kraton yg menamakan dewan adat. Saya jadi curiga jangan2 PB XIII Hangabehi ini malah dijadikan boneka oleh dewan adat untuk kepentingan mereka, anehnya kenapa dewan adat malah mengatur seorang raja, kalau tidak punya kepentingan dibalik itu. Dalam kerajaan yg paling berkuasa adl raja bukan dewan adat yg dibentuk sebagai akal2an beberapa orang. Sayang sekali keraton Surakarta telah diobok2 orang dalam sendiri yg menamakan dewan adat.

  6. 19 Mei 2012 pukul 21:51

    Kami yang berada di luar Kasunanan Surakarta, tentu hanya dapat berdo’a semoga konflik yang jauh dari manfaat untuk keluarga itu dapat cepat selesai. Bukankah telah menjadi pelajaran bahwa keterlibatan dari luar keluarga hanya lebih memperkeruh suasana dan lebih dari itu, yang akhirnya tidak pernah ikut bertanggung jawab atas sakit hati dan rasa tidak nyaman yang ditanggung keluarga. Selesaikan secara bijak di antara anggota keluarga, pelajaran hal ini telah banyak.

  7. sate ceker
    19 Mei 2012 pukul 22:24

    Saya warga Solo, gak perduli mo rajanya 1, 3, 5 kek…gak peduli sama sekali. Gonjang-ganjing ini kan hanya rebutan duit yang biasa digelontorkan pemerintah untuk kraton saja….banyak penggedhe kraton yang nganggur…trus nyadhong sama pemerintah…..

  8. beloraos
    20 Mei 2012 pukul 00:50

    ikuti dulu perkembangan/akan ada kejutan2 peristiwa bulan depan

  9. surya
    20 Mei 2012 pukul 10:04

    Budaya kisruh nan langgeng. Yg bikin kisruh malah menghimbau spy org lain tdk mmperkeruh suasana. Mmg dr sononya sdh keruh.

  10. 20 Mei 2012 pukul 10:21

    (1) rekonsiliasi adalah hanya istilah bahasa, apapun namanya yang penting namanya perseteruan dihilangkan untuk kemajuan keraton menjadi lebih baik. (2). pihak pihak yang tidak menyukai adanya rekonsiliasi sepertinya adalah pihak yang merasa tidak nyaman dan merasa posisinya dapat terancam mengingat dengan kondisi yang ada pra rekonsiliasi sudah nyaman. (3). dalam pasca rekonsiliasi tetap sebagai raja adalah Ngabehi bukan tedjowulan.Untuk kedepan PB XIII harus mampu memimpin bukan diatur karena dia Radja. Jadi hapus semua lembaga dalam keraton yang tidak sesuai dengan lembaga yang dibentuk tanpa ijin dari PB XIII.

  11. Afif
    20 Mei 2012 pukul 11:00

    Damai kog ora seneng… Aneh ?? pikiran e cethek.. ora sembodo karo ayune.. Rak nduwe etikane.. opo pantes di sebut “wong kraton” ..??? opo mung ambisi rebutan duit… mbuh.. amit amit.. mati ora digowo kog.. ck..ck ..ck..

  12. raharjo
    20 Mei 2012 pukul 15:33

    ada perdamaian kok tidak disukai trus bagaimana maunya..??heran juga dengan orang orang kraton ini…

  13. 20 Mei 2012 pukul 16:10

    Siapapun pribadinya, harus bisa njaga wadhi. Jangan cuma bisa memberi pernyataan tanpa memikirkan akibat. Harus bisa mikul dhuwur mendhem jero.

  14. 20 Mei 2012 pukul 21:22

    gak usah dikunjungi, gak usah diberi bantuan, gak usah diperhatikan..

  15. 21 Mei 2012 pukul 14:55

    hidup rekonsiliasi, maju terus yang tidak setuju rekonsiliasi gak usah ngaku sebagai “sentana kraton” saja.

  16. 24 Mei 2012 pukul 21:32

    Untung Indonesia ga punya raja. Males bener kyk gini, kelakuan raja lebih kanak-kanak dari rakyatnya. Kalau badut-badut DPR mah bisa diganti. Nah, klo dapat keluarga kerajaan model gini, stuck seumur hidup. Malah rajanya yg bikin malu rakyatnya welehhh..

Silahkan bergabung untuk diskusi

Email anda tidak akan dipublikasikan.

Iklan Baris
  • RUMAH DIKONTRAKKAN

    Rumah Dikontrakkan,LT 254M2,LB 225M2,7Kmr,3K Mandi, Garasi, Jl.Kencur No.48, Rt 03/11, Kag…

Menarik Juga »