PEMILU 2014
Jumlah Ideal Peserta Pemilu 15 Partai

ilustrasiilustrasi

ilustrasi

JAKARTA-- Pengamat politik dari Universitas Indonesia Andrinof Chaniago mengatakan 15 parpol adalah jumlah ideal untuk peserta Pemilu 2014 mendatang.

Hal itu dikatakannya dengan tujuan agar masyarakat dapat fokus untuk memilih karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak.

“Yang paling ideal 15 parpol. Karena angka ini sangat rasional, masyarakat juga tidak dipusingkan dengan banyaknya parpol, sehingga pilihan mereka akan semakin fokus,” ujar Andrinof di Jakarta, Senin (23/4/2012).

Andrinof memprediksi bila memang terjadi maka ke-15 parpol itu adalah 9 parpol yang telah ada di parlemen saat ini yaitu Demokrat, Golkar, PDIP, PKS, PAN, PPP, PKB, Gerindra, dan Hanura.  Ditambah partai baru yang bakal menjadi peserta pemilu adalah Nasdem, Partai SRI, Nasional Republik, Partai Persatuan Daerah (pimpinan Osman Sapto), PBB, Partai Demokrasi Pembaruan (pimpinan Roy BB Janis) atau Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (pimpinan Sutiyoso).

“Saya melihat parpol baru yang bakal menjadi peserta ada 6 atau 7 parpol. Bisa saja jumlah peserta pemilu nanti sampai 20 parpol. Tetapi kalau KPU benar-benar objektif melakukan verifikasi maka mungkin hanya 15 parpol bakal menjadi peserta,” ujarnya.

Menurutnya, kesembilan parpol yang ada di parlemen saat ini terbagi atas enam ideologi mendasar. Keenam ideologi itu yaitu nasisonalis-kerakyatan (PDIP dan Gerindra), nasionalis moderen yang mengandalkan program (Golkar, Demokrat, dan Hanura), Islam tradisional (PKB), Islam modern (PAN), Islam pembangunan (PPP), dan Islam konservatif (PKS).

Menurutnya, Parpol baru pun hanya akan menjadi bagian dari enam ideologi tersebut. Tidak ada ideologi baru yang dibawa parpol baru tersebut.

Editor: | dalam: News |

5 Komentar pada “PEMILU 2014: Jumlah Ideal Peserta Pemilu 15 Partai”

  1. 31 Mei 2012 pukul 08:27

    yaa idealnya hanya 15 parpol peserta pemilu 2014 dan pada 2019 tinggal sepuluh saja dengan UU parpol yg lebih ketat … sehingga fokus voter lebih enjoy !

  2. kartika agus salim
    16 Juni 2012 pukul 15:25

    saya mau masuk partai nasdem..tapi gak tau bagaimana prosesenya..saya di sintang,kalbar

  3. tak percaya
    22 Juni 2012 pukul 05:22

    Saya tidak setuju dengan nama-nama diatas, Karena memang tidak ada PDS , Lihat donk perolehan suara partai PDS di peringkat 11 Besar, dan Mungkin bisa masuk ke Pemilu 2012, Peringkat 11 itu karena 2 Partai Kristen No 25, dan 32 . Kalau Partai Kristennya 1 Wah , Coba hampir seluruh umat Kristen dan Non Islam 80% mendukung , jadi berapa banyak ya . Jadi jangan meramalkan PDS tidak akan masuk

  4. Arianus Mandadung
    10 Juli 2012 pukul 19:18

    Sebenarnya paling ideal kalau Parpol pserta Pemilu 2014 hanya 10 saja atau seandainya bisa di bawahnya 10. Saya melihat bahwa kalau Caleg DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten seperti tahun-tahun sebelumnya sampai lebih dari 10 juta Caleg, maka saya perkirakan Indonesia menyelanggarakan Pemilu selama 5 kali atau 25 tahun, maka rakyat Indonesia akan sama miskinnya rakyat Pilipina di tahun 1990-an. Mengapa ? Dari lebih 10 juta yang ingin duduk di kursi DPR, DPRD Prop. DPRD Kab/Kota akan mengeluarkan biaya cukup banyak yang hanya habis perpesta demokrasi. Padahal hanya 10 % yang bisa duduk, maka jika 5 x saja terulang, rakyat peminat kursi akan miskin. Kalau 11 juta caleg hanya 1 juta diterima, maka 10 juta itu akan memiskikan dirinya dan orang lain. Kalau 5 tahun x 10 juta = 50 juta orang memiskinkan 200 juta orang yang berpartsipasi. Jangan negeri ini akan miskin setelah 25 tahun Pemilu dilakukan seperti ini, hanya karena pesta demokrasi memiskinkan rakyat, Belum lagi pesta perkawinan, ulang tahun, perceraian, kawiun lagi, syukuran lainnya yang juga adalah akar-akar korupsi memiskiankan negara.

  5. Arianus Mandadung
    10 Juli 2012 pukul 19:29

    Pendidikan demokrasi di Indonesia masih kurang dan ini tantangan kita sebagai anak bangsa. Guru yang baik adalah pendidik yang baik dan bertanggungjawab demi generasi ke depan. Karena profesi saya Pramuwisata (Guide) tetapi sempat menjadi Anggota KPU disalah satu propinsi di negeri ini maka saya akan menngangkat contoh wisatawan tertentu sebagai guru yang tidak baik di daerah tertentu. Ketika wisatawan mancanegara baru mulai memasuki suatu daerah tertentu, mereka membagi-bagi gula-gula kepada anak-anak. Pada saat wisatawan mancanegara semakin banyak berkunjung ke situ, anak-anak menagih gula-gula, wisatawan mancanegara marah. Kurang ajar ! Yang ajar siapa ? Turis mancanegara sebelumnya. Demikian juga dalam Pemili, seharusnya oknum peserta Pemilu menjadi guru yang baik kepada rakyat, bukan guru yang tidak baik seperti turis mancanegara tadi. Sehingga pendidikan demokrasi bagi Pemilih dan Potensi Pemilih sangat penting.

Silahkan bergabung untuk diskusi

Email anda tidak akan dipublikasikan.

Iklan Baris

    No items.

Menarik Juga »