STAND UP COMEDY
Jogja Butuh Banyak Comic

Ilustrasi stand up comedy (JIBI/Solopos/Dok.)Ilustrasi stand up comedy (JIBI/Solopos/Dok.)

Andre Setia Nugraha, 19, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung, Jawa Barat, terlihat sumringah dan tersenyum semangat saat pembawa acara Stand Up Comedy memanggil namanya untuk naik ke panggung kafe Geronimo, di Jalan Sagan, Jogja.

Selanjutnya, adegan yang terjadi mahasiswa jurusan Anestesi STSB Bandung itu selama kurang lebih 10 menit dengan penuh percaya diri membanyol di panggung.

Tak peduli lawakannya garing atau tidak, dia tetap mencoba membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Kalau tak lucu, maklum saja karena itu penampilan kali pertama Andre di panggung stand up comedy.

Bisa saja saat itu perasaan grogi, nervous, serta takut tidak lucu berbaur menjadi satu. “Baru pertama kali ini Mas saya tampil di stand up comedy,” ujarnya kepada Harian Jogja, Selasa, (17/4).

Andre memang harus nekat dan membuktikan dia berani tampil mbanyol di panggung. “Saya ditantang teman-teman main di stand up comedy. Kata teman-teman belum disebut comic [sebutan pemain yang akan tampil di acara stand up comedy] kalau belum tampil di panggung terutama tampil di luar kota,” katanya.

Persiapan Andre tak main-main. Dia latihan melawak selama sebulan bersama teman kuliah. Begitu tiba di Jogja, dia tak peduli lawakan perdananya itu garing atau tidak. Baginya tampil panggung sudah merupakan prestasi yang membanggakan.

Awang Aji Waskita, salah seorang penggagas stand up comedy di kafe Geronimo mengakui antusiasme warga Jogja baik melihat maupun menjadi pelawak Stand Up Comedy begitu tinggi. Sejak dideklarasikan pada 16 Agustus 2011 silam, jumlah pelawak kini mencapai 100 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Jogja, namun juga Bandung, Surabaya serta Jakarta.

“Sebagian lagi biasanya dadakan pas datang ke sini terus coba tampil di atas panggung” ungkapnya kepada Harian Jogja, Rabu(18/4).

Bagi Awang jumlah tersebut menunjukkan bagaimana trend stand up comedy semakin diminati. “Ini artinya bukan cuman tren sesaat tapi memang humor itu sudah menjadi semacam kebutuhan bagi warga di sela-sela kesibukan melakukan aktivitas,” tandasnya.

Bahkan panggung stand up comedy telah menjadi satu tantangan bagi para comic yang berasal dari luar kota untuk unjuk kebolehan di panggung Jogja.

Awang mengungkapkan orang yang main di Stand up Comedy Gerinimo Cafe tidak harus melulu murni pelawak. Pihaknya juga mempersilakan seni lawak lain untuk main di panggung tersebut.

“Semisal musik humor, ilmu sulap, juga kami perbolehkan bermain di sini. Tujuannya untuk menghadirkan suasana yang berbeda di panggung stand up comedy,” katanya.

Salah satu penonton panggung stand up comedy, Agus Yuli Christianto, 22, mengaku tontonan stand up comedy di dalam kafe merupakan salah satu hiburan yang menarik.

“Kalau nonton langsung bareng sama temen-temen bisa sambil menikmati makananan dan minuman,” ujarnya.

Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja ini memandang lawakan merupakan salah satu kebutuhan penting mengusir stres.

“Saya melihat stand up comedy terus diminati warga karena memang warga membutuhkan lawakan. Begitu juga orang yang melawak akan senang bila lawakannya membuat tertawa yang melihat,” ujarnya.

Editor: | dalam: Issue |
Menarik Juga »