ANGKRINGAN
Negara Gagal...

Hasil rapat paripurna di DPR yang berlangsung sampai Sabtu (31/3) dinihari, akhirnya memutuskan untuk menunda kenaikan BBM sampai enam bulan ke depan. Meski masih dilengkapi syarat tertentu, sudah melegakan ratusan juta rakyat Indonesia. Sabtu pagi, pancaran kegembiraan sudah tampak tergambar di wajah rakyat.

“Gimana Mas Bro gak jadi naik ta bensinnya,” sapa Lik Kardi, tetangga depan rumah Mas Noyo. Bahkan baru buka jendela pagi-pagi saja, sudah terlihat sapaan ramah dari tetangga perumahan RSS yang ditinggali Mas Noyo itu.

“Lha ya kenapa kok ndadak ada rencana kenaikan BBM, itungannya gak mateng lagi. Makanya rakyat memberontak,” sambung Lik Kardi lagi.

Gerakan mahasiswa dan elemen masyarakat itu ternyata dianggap personifikasi dari suara rakyat. Artinya mahasiswa sudah mendapatkan momentum yang bagus, dan oleh karena itu mereka dianggap mewakili suara rakyat yang menolak kenaikan harga BBM. Sungguh beruntung!

“Ya begini ini Lik yang dinamakan kita berada di situasi politik yang disebut negara gagal…” kata Mas Noyo, sudah ancang-ancang mau ceramah di pagi hari.

“Negara gagal? Ya paham aku. Negara gagal menaikkan harga BBM,” sahut Lik Kardi. Negara juga gagal membujuk DPR, gagal melaksanakan rencana kerja pemerintahan, gagal menyejahterakan rakyat dan lain-lainnya.

“Tapi yang mangkelke, negara gagal mencegah harga naik cabe naik, gagal mencegah harga angkutan naik. Lha BBM gak jadi naik, mereka susah kembali turun,” kata Lik Kardi nyerocos terus.

Mas Noyo tersenyum saja. Dia belum selesai bicara, tapi sang tetangga sudah ambil alih pembicaraan. “Betul Lik…negara gagal menaikkan harga BBM. Tapi pengertian negara gagal bukan seperti  itu saja,” papar Mas Noyo.

Lalu Mas Noyo menjelaskan arti negara gagal atau failed state memiliki sedikitnya empat unsur, kehilangan kontrol atas wilayah teritorialnya, atau kehilangan kendali atas monopoli legitimasi untuk memerintah, mengalami erosi atas otoritas sah sehingga tidak mampu membuat leputusan kolektif.

Hal itu, lanjut Mas Noyo, akan diperparah apabila sudah tidak mampu lagi menyediakan layanan publik serta tidak mampu bergaul dengan negara-negara lain dalam lingkungan komunitas internasional.

“Nah dalam soal BBM pemerintah gagal membuat keputusan, gagal menggunakan legitimasinya. Parahnya bukan hanya pada soal BBM, persoalan-persoalan lain yang membutuhkan kehadiran negara, malah nihil,” ujar Mas Noyo.

Coba saja masalah korupsi, masalah konflik-konflik di masyarakat. Seakan-akan masyarakat diminta menyelesaikan sendiri, sambungnya.

“Dengar-dengar ditundanya kenaikan BBM ya cuma gara-gara pemimpin parpol yang semula mendukung, karena mutung jadi malah mbalelo ya. Parah tenan kalau benar, keputusan untuk rakyat banyak kok ditentukan mood satu dua orang saja,” kata Lik Kardi yang mulai ngeh dengan arah pembicaraan Mas Noyo.

“Ya bisa jadi begitu,” jawab Mas Noyo sambil mbenerin sarungnya.

“Tapi lumayan lho ada perkembangan bagus dari pemimpin kita. Saat dua tiga hari yang lalu situasi genting, tidak muncul di teve untuk curhat,” kata Lik Kardi.

“Lha memang sampeyan mau po ndengerin curhatnya,” goda Mas Noyo.

Wegaaahh…mending nonton sinetron he he he,” jawab ya sambil nyengenges.

 

A. Adi Prabowo

Wartawan Harian Jogja

Editor: | dalam: Angkringan |

Berita Terkait

Iklan Cespleng
Menarik Juga »