SALON ESEK-ESEK DIGEREBEK, 4 Mucikari Dibekuk

TERSANGKA MUCIKARI-- Empat tersangka mucikari saat digelandang petugas di Mapolresta Solo, Sabtu (24/3/2012). Keempat tersangka tersebut terjaring razia pekat oleh petugas di kawasan Jebres dan Banjarsari. (JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya)TERSANGKA MUCIKARI-- Empat tersangka mucikari saat digelandang petugas di Mapolresta Solo, Sabtu (24/3/2012). Keempat tersangka tersebut terjaring razia pekat oleh petugas di kawasan Jebres dan Banjarsari. (JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya)

SOLO–Aparat Polresta Solo menggerebek beberapa salon kecantikan yang diduga digunakan sebagai tempat transaksi seksual. Dari lokasi tersebut, polisi membekuk empat pelaku yang berperan sebagai muncikari dan pemilik salon esek-esek.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Sabtu (24/3/2012) sore, menyebutkan pembongkaran lokasi salon kecantikan yang juga difungsikan sebagai transaksi seksual secara terselubung itu merupakan hasil operasi penyakit masyarakat (pekat) yang dilakukan aparat dalam jangka waktu tiga hari terakhir.

Polisi menyisir seluruh lokasi salon yang diduga membuka praktik prostitusi di wilayah Solo. Hasil dari penggerebekan, polisi hanya mendapatkan tiga salon yang diduga membuka bisnis prostitusi. Salon itu meliputi Salon Aries, wilayah Jagalan, Jebres; Salon Amoro, wilayah Gilingan, Banjarsari dan Salon Rose, sekitar Jl Ronggowarsito, Banjarsari.

Berdasarkan hasil operasi pekat tersebut, polisi menetapkan empat tersangka yang diduga sebagai mucikari. Tiga di antaranya merupakan pemilik salon yakni Sri Sumarni, 35, warga Sorogenen, Jagalan, Jebres adalah si empunya Salon Aries; pemilik Salon Amoro yakni Henky Hermansyah, 26, warga Bibis Wetan, Gilingan, Banjarsari dan Rusmiyati alias Rose, 45, warga Banyuanyar, Banjarsari merupakan pemilik Salon Rose. Sedangkan seorang tersangka, Danik Kurniawati, 28, warga Mojosongo, Jebres merupakan karyawan salon (kapster). Dari penyelidikan petugas, praktik salon plus-plus telah beroperasi sejak lama, mulai dari enam bulan hingga 10 tahun.

“Dari hasil pemeriksaan, selain melayani konsumen untuk perawatan rambut dan wajah, para pemilik salon itu sengaja melegalkan praktik prostitusi secara sembunyi-sembunyi. Oleh sebab itu, kami tangkap dan amankan untuk menjalani proses hukum,” papar Kasatreskrim Polresta Solo, Kompol Edy Surantas Sitepu, mewakili Kapolresta Solo, Kombes Pol Asjima’in, kepada wartawan di Mapolresta Solo, Sabtu sore.
Menurut Edy, terbongkarnya salon plus-plus itu berdasarkan laporan dari masyarakat yang resah atas praktik prostitusi yang kian marak di Kota Solo. Oleh sebab itu, petugas langsung bergerak menggelar operasi pekat dengan memantau lokasi salon kecantikan yang dicurigai membuka praktik prostitusi. “Sebagian karyawan salon kami jerat dengan tindak pidana ringan, sedangkan empat tersangka yang sebagian besar pemilik salon sekaligus muncikari dijerat dengan Pasal 296 KUHP,” papar Edy.

Dalam Pasal 296 KUHP disebutkan barang siapa yang mata pencahariannnya dan kebiasannya yaitu dengan mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain akan diancam penjara satu tahun empat bulan penjara.
Dikatakan Edy, dari hasil penggerebekan di lokasi salon esek-esek tersebut, polisi menyita uang sekitar Rp600.000, tiga buah handuk, satu baskom warna merah, dan kaus.

“Kami harus jeli untuk membongkar salon yang membuka praktik esek-esek, harus didukung dengan bukti-bukti dan keterangan saksi. Namun adapula yang kami pergoki konsumen yang baru saja berhubungan badan dengan karyawan salon,” pungkas mantan Kasat Reskrim Polres Klaten ini.

Dalam kesempatan tersebut, para muncikari mengakui mereka membuka praktik prostitusi secara terselubung untuk menarik konsumen. Sedangkan jumlah karyawan pada setiap salon berbeda, mulai dari empat hingga enam karyawan. “Salon kami telah beroperasi selama 10 tahun. Adapun praktik prostitusi itu hanya sampingan saja dan tergantung permintaan konsumen,” ujar pemilik Salon Rose, Rusmiyati singkat.

Editor: | dalam: Hukum |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »