Sepak bola adalah membangun karakter

M Isnaini, Pemain Persis periode 1988-1989 (ist)M Isnaini, Pemain Persis periode 1988-1989 (ist)

Menyesakkan memang realitas kegagalan meraih emas di cabang paling bergengsi dalam SEA Games XXVI, sepak bola! Bagi sebagian atau bahkan banyak orang, berapa ratus pun medali emas diperoleh jika gagal meraih emas di sepak bola, seolah tidak arti!

Bukan bermkasud mengecilkan perjuangan atlet di cabang lain yang berlaga di SEA Games XXVI Jakarta-Palembang tahun ini. Namun, opini seperti itu memang cukup kuat.

Bukan pula bermaksud mengesampingkan perjuangan Egi Melgiansyah dkk serta Pelatih Rahmad Darmawan (RD) beserta Aji Santoso, Widodo C Putro dan lainnya. Tetapi, tim Malaysia besutan Ong Kim Swee yang di lapangan hijau dipimpin kharisma  Bakhtiar Baddrol harus diakui mampu meredam keganasan Garuda Muda.

Mereka justru mampu mengendalikan permainan setelah Gunawan Dwi Cahyo menjebol gawang Fahmi Che Mat di menit awal pertandingan. Penguasaan mereka atas bola, umpan satu-dua dan permainan unit 3-4 pemain, sedikit demi sedikit mengurung pertahanan Timnas U-23 Indonesia. Skema permainan yang benar-benar dikuasai Tim Malaysia terbukti membuat Egi dkk terperangkap di area permainan sendiri.

Andik yang biasanya gesit dan menjadi pendorong gairah tim di tengah kurungan pemain lawan, kali ini juga mati kutu. Jika mau objektif, laga final cabang sepak bola SEA Games XXVI di Gelora Bung Karno, Senin (21/11/2011) malam lalu,  itu memang milik Malaysia. Lantas apa yang perlu menjadi catatan kita bersama?

Pola kompetisi

Sepak bola  tidak sekadar adu fisik 2 x 45 menit dilanjutkan 2 x 15 menit kemudian adu tendangan penalti. Sepak bola juga tidak cukup dengan kemampuan individu pemain mengolah bola secara lebih kreatif dibandingkan yang lain.

Skillfull dan powerfull saja tidak cukup! Yang paling penting dalam membangun tim sepak bola nasional atau pun klub profesional adalah karakter!

Ini seperti sebuah perusahaan membangun culture of company. Apa pun yang terjadi selalu terukur secara manajerial. Tetapi, sebelum semua itu menjadi sebuah bangunan budaya, bangunan mental dan bangunan tim secara utuh, ada proses yang mesti ditaati.

Kecenderungan mau cepat mendapatkan hasil atau pola-pola instan harus ditanggalkan. Dalam sepak bola tidak ada kata lain untuk menemukan format 11 sampai 23 pemain paling siap selain pola kompetisi rutin.

Ironisnya, yang terjadi di ranah puncak organisasi sepak bola kita sampai ke daerah, pola ini sama sekali jauh panggang dari api. Kompetisi divisi lokal dan regional tidak digelar dengan sistematika yang jelas.

Paling lama tiga bulan dalam setahun. Jelas, kondisi ini sangat jauh dari ideal untuk memperoleh pemain potensial dan kompetitif.  Ketika kompetisi level lokal dan regional hanya seperti itu, yang terjadi seluruh klub peserta berlomba-lomba menjadi juara.

Mereka tidak menjadikan ajang kompetisi sebagai sebuah pertarungan kualitas tim, kualitas kepelatihan dan kualitas manajemen pembinaan. Yang diutamakan adalah bagaimana anak asuh mereka menjadi jawara kompetisi! Tidak ada filosofi membina di dalamnya karena arenanya saja sudah tidak quorum dari sisi rentang waktu.

Kalau menuruti diktum kompetisi yang benar, seharusnya di setiap level yang dikompetisikan–tingkat lokal atau regional–adalah dalam rentang waktu satu tahun. Misalnya, Divisi Utama, Divisi I atau Divisi II di level klub lokal waktu pertandingan hanya hari Minggu. Mereka bertanding berdasarkan level dengan merunut jam pertandingan, yakni mulai pukul 14.00 WIB.

Dengan waktu kompetisi yang panjang dan jeda per pertandingan cukup akan memberikan kesempatan pengelola tim untuk membandingkan dan meng-evaluasi hasil pembinaan.

Sistematika komunikasi internal tim juga dapat berjalan optimal karena setelah pertandingan mereka punya waktu untuk mendiskusikan pencapaian dalam praktik latihan sebelum bertanding lagi dan bertanding lagi hingga akhir kompetisi.

Jika pola ini menjadi budaya, pada akhir pencapaian akan terbentuk karakter sebuah tim. Dengan kalender kompetisi yang cukup waktu, jika manajemen pembinaan sebuah klub benar (aspek dedikasi, loyalitas dan sebagainya) setiap pelatih akan tahu betul sat per satu karakter pemain. Pemain tidak sekadar dinilai layak sehingga masuk starting eleven.

Sekarang yang terjadi jelas tidak demikian. Akibat sistem kompetisi yang tumpang tindih, bukan hanya di level klub lokal, bahkan di tingkat kompetisi Super League atau Primer League (ISL/IPL),  sering kali terjadi kalah main saat pertandingan tandang.

Kenyataan seperti ini seharusnya tidak terjadi dari sisi kematangan tim kalau sistematika kompetisi lokal memberikan kesempatan setiap klub menemukan jati diri. Namun, sekali lagi, untuk meraih itu tidak mudah.

Generasi emas
Terlepas dari kekalahan Egi dkk (Timnas U-23) serta Bambang Pamungkas dkk (Timnas senior), sebenarnya saat ini ada peluang terbentuknya Timnas yang lebih baik.  Pemain-pemain Timnas U-23 maupun Timnas senior yang ditemukan Alfred Riedl harus terus dijaga. Beberapa pemain tercatat memiliki karakter kuat.

Di Timnas Senior yang sangat menonjol adalah Ahmad Bustomi. Pemain tengah ini memiliki konsistensi tinggi baik saat tim menyerang maupun saat tim ditekan lawan.

Sebagai pengatur serangan dia juga memiliki kecerdikan dan visi. Kemampuan pemain kelahiran Jombang, Jawa Timur, berusia 26 tahun ini masih bisa optimal jika bermain di level kompetisi mapan atau dengan tim berkelas.

Karakter Ahmad hampir sama dengan Kapten Malaysia U-23, Bahktiar Baddrol. Kedua pemain ini sudah cukup mempersonifikasikan yang dimaksud pemain berkarakter.

Di Timnas  U-23 besutan RD juga ada pemain-pemain berkarakter. Meski masih di bawah kematangan Ahmad Bustomi maupun Bakhtiar Baddrol, namun kemapanan bermain Kurnia Mega, Hashim Kipauw, Diego Micheils, Abdurrahman, Tibo dan Egi, jika dijaga akan memunculkan kekuatan tim yang tidak mudah tergoyahkan oleh gelombang pujian ketika menang maupun cacian ketika gagal.

Jika di level dunia, sebagai analogi pemanis, bisa membandingkannya dengan Xavi Hernandes dan Frank Lampard. Keduanya memiliki banyak kesamaan. Pertama, sama-sama sebagai gelandang. Kedua, sama-sama bermain di klub kaya raya.

Ketiga, sama-sama pemain nasional di negeri masing-masing. Xavi adalah pemain berkarakter sementara Lampard tidak memiliki kekuatan itu.

Jarang sekali kita melihat Xavi bermain angin-anginan. Ini berbeda dengan Lampard yang begitu mudah labil. Xavi mampu mempengaruhi ritme, irama dan arah permainan tim. Sedangkan Lampard, untuk menyetabilkan permainan sendiri saja di setiap level kompetisi masih belum konsisten.

Pemain sekelas Cesc Fabregas saja belum mampu menggantikan peran Xavi. Saat friendly match Spanyol vs Inggris beberapa waktu lalu, pelatih Vicente del Bosque menarik Xavi dan memasukkan Fabregas di babak II untuk memaksimalkan kekuatan tim.

Tetapi, pada babak  itu yang terjadi adalah hilangnya ”ruh”  permainan Tim Matador. Ini seperti mengingatkan karakter Zinedine Zidane bagi Timnas Prancis saat berlaga di Piala Dunia 2006 di Jerman lalu. Ahmad Bustomi, Egi dan lainnya merupakan generasi emas yang seharusnya menyadarkan PSSI untuk memolakan pembangunan manajemen kompetisi yang memiliki patron persepakbolaan, bukan patron kepentingan apalagi politik. Mereka akan menjadi perangsang bakat-bakat muda di seluruh penjuru Tanah Air.

Ini akan terwujud dengan catatan ada realitas yang menunjukkan bahwa PSSI bebenah. Bukan saja di tingkat manajemen tetapi harus turun sampai pada fakta pembinaan di klub lokal. Sekali lagi, membangun kekuatan sepak bola adalah membangun karakter.

Membangun karakter bangunan yang terdiri atas pemain, pelatih, ofisial dan manajemen tim. Namun, jika berpuas diri dengan pola sekarang, hasilnya seperti kata Riedl,”Jangan mimpi Indonesia di Piala Dunia!”

Editor: | dalam: Kolom |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »