Pasar Kaqiyah, tempat berburu hewan kurban di Mekah

kaqiyahkaqiyah

Mekah (Solopos.com) – Pasar Kaqiyah, Mekah, menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha merupakan tempat yang selalu dibanjiri masyarakat setempat serta ratusan ribu bahkan jutaan jamaah haji dari berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Ini bukan pasar sayuran dan buah-buahan tapi merupakan pasar ternak terbesar di Mekah yang menyediakan kambing, domba, sapi hingga onta.

Umumnya yang datang ke lokasi itu membeli ternak bukan untuk dipelihara tapi akan dipotong untuk membayar dam (denda) atau disembelih sebagai kurban saat Idul Adha. Kondisi pasarnya jauh dari apik. Pasarnya lebih banyak didominasi ruang terbuka dan hanya ditempati kios-kios tempat ternak berada. Debu beterbangan dan bau hewan yang menyengat adalah ciri khas Pasar Kaqiyah yang meski begitu situasinya tetap saja ramai dan padat dikunjungi. Selain menjual ternak yang akan disembelih, di lokasi itu juga terdapat lokasi penyembelihan sekaligus tempat menguliti ternak serta memotong daging dan tulangnya menjadi beberapa bagian.

Banyak yang menyarankan jika hendak memilih dan membeli ternak di situ hendaknya didampingi oleh orang yang sudah mengenal medan dan terpenting bisa bahasa Arab. Masalahnya hampir semua pedagang di situ tidak bisa bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia, sehingga kesulitan akan ditemui jika tidak ada yang bisa bahasa Arab. “Memang di sini pedagangnya jarang berbahasa Inggris tapi bahasa Arab. Kalau datang ke sini tidak bisa bahasa Arab maka bahasa Tarzan yang dipakai. Tapi itu juga sebaiknya jangan dilakukan karena nanti akan dikenakan harga mahal karena kita dianggap tidak tahu harga,” kata Mustofa, warga Indonesia yang lama bermukim di Mekkah.

Bagi yang tidak tahan bau kotoran ternak, daging mentah serta debu yang beterbangan, pengunjung sebaiknya membawa masker penutup hidung untuk mencegah bau menyengat. Satu hal lagi, biasanya jika ada calon pembeli turun dari kendaraan hendak membeli ternak, para pedagang sudah mengerubungi untuk menawarkan ternaknya. Sebaiknya abaikan saja tawaran mereka.

Memilih ternak di situ memang harus jeli jika tak mau tertipu dan harus benar-benar diawasi pergerakan ternak jika kita sudah memutuskan ternak yang akan kita sembelih. “Jangan sampai tertukar dengan ternak yang lain karena pedagang di sini seringkali menukar ternak yang lebih kecil walau harga sudah kita sepakati,” kata Mustofa.

Harga kambing atau domba yang ditawarkan bervariasi antara 300 riyal hingga 1.200 riyal per ekor (1 riyal sekitar Rp 2.500), sementara untuk onta seharga 2.800 riyal per ekor. Harga sebesar itu tentu saja masih bisa ditawar untuk jenis ternak yang diinginkan. Hal ini yang menjadikan mengapa perlunya ada yang menemani bisa bahasa Arab saat datang ke situ.

Usai mendapatkan ternak yang diinginkan, jamaah bisa langsung membawa ternak tersebut ke ruang penyembelihan yang lokasinya masih dalam satu tempat. Hanya saja ruangannya tertutup dan dilengkapi pengatur udara. Saat masuk ke dalam ruang penyembelihan jangan kaget di situ sudah tergantung puluhan bahkan mungkin ratusan ribu ternak yang sudah mati dalam posisi digantung dan sedang dikuliti serta dipotong bagian tubuhnya. Bau menyengat pun tak bisa dihindari sehingga yang tidak kuat menahan bau siap-siap saja muntah. Untuk itu masker penutup hidung tetap dibutuhkan.

Ratusan jagal banyak berada di situ. Mereka tampak sangat terampil menguliti ternak yang sudah dipotong dan memotong-motong ternak yang digantung menggunakan besi baja. Untuk memastikan ternak yang diinginkan dipotong, jamaah dianjurkan untuk terus mengawasi pemotongan hingga pemotongan ternak menjadi daging. “Bukannya apa-apa di sini juga banyak pedagang yang nakal,” imbuh Mustofa.

Muhammad Ibrahim, jamaah calon haji asal Aceh, mengatakan dirinya sengaja datang ke situ untuk membeli ternak sebagai syarat untuk membayar dam (denda). Dam yang dibayarkan Ibrahim bukan karena dia melanggar sesuatu atau melakukan kesalahan dalam menjalankan ibadah. Dia membayar dam karena dia menjalankan haji tamattu, yakni mengerjakan umrah terlebih dahulu, baru mengerjakan haji. Sesuai ketentuan Islam, jamaah yang menjalankan haji tamattu dikenakan dam berupa memotong ternak. “Saya kan haji tamattu sehingga saya harus membayar dam. Oleh sebab itu saya ingin datang sendiri ke sini untuk memilih ternak secara langsung,” katanya.

Dia mengaku walaupun suasana pasar berdebu dan bau tapi dia mengaku merasa puas jika bisa melihat dengan mata kepala sendiri ternak yang dipilih dan dipotong. “Soal nanti daging itu akan diapakan sama pedagang setelah dipotong, itu urusan mereka kepada Allah. Terpenting saya sudah melakukan kewajiban membayar dam,” katanya. Sesungguhnya ada cara lain untuk membayar dam, yaitu jamaah juga bisa membayar dam berupa uang melalui bank yang ditunjuk di Mekkah.

JIBI/SOLOPOS/Ant

Editor: | dalam: Haji |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »