KOMPAK -- Para tokoh lintas agama bersama Walikota Solo, Joko Widodo, menyatakan komitmen menjaga persatuan dan perdamaian di Kota Solo menyusul terjadinya aksi serangan bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, belum lama ini. (JIBI/SOLOPOS/dok)
Kamis, 20 Oktober 2011 09:39 WIB Tak Berkategori Share :

(Laporan Khusus) Semua bersatu demi Solo yang damai

KOMPAK -- Para tokoh lintas agama bersama Walikota Solo, Joko Widodo, menyatakan komitmen menjaga persatuan dan perdamaian di Kota Solo menyusul terjadinya aksi serangan bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, belum lama ini. (JIBI/SOLOPOS/dok)

(Solopos.com) – Masa lalu Solo boleh kelam. Beberapa kali kerusuhan yang melanda menjadi potret nyatanya. Namun, Solo sekarang bukan Solo masa lalu. Kini warga disuguhi wajah kota yang lebih ramah, teduh dan lebih bersenyawa dengan alam. Tak hanya wajah kota yang bersolek tapi harmonisasi kehidupan masyarakat berjalan kondusif.

Solo sempat tersentak bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, beberapa waktu lalu. Tak ada yang terprovokasi. Yang terjadi justru sebaliknya. Warga Solo dari berbagai lintas agama malah kian erat dan kuat kerukunannya.

Semua bersatu dan bergandengan tangan. ”Ini adalah modal besar Kota Solo yang tak dimiliki kota lainnya,” papar pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Jagalan, Murjioko. Harmonisasi kehidupan kian menenteramkan ketika budaya nguwongke uwong kian terjaga. Ketika sejumlah daerah marak terjadi bentrokan dalam penataan PKL, Solo justru menerima apresiasi karena penataan dihelat dengan atraksi budaya. ”Solo sekarang itu berbeda dengan Solo yang dulu. Sekarang masyarakatnya telah melek hukum semua,” sambung Murjioko.

Tak hanya di wilayah hukum, potret Solo sebagai kota yang ramah juga tercermin dari setiap kebijakan dari pemangku wilayah serta stakeholders lainnya. Meski belum tuntas, program peningkatan kesejahteraan tanpa pandang bulu terus digencarkan mulai Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo (BPMKS) hingga Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Kota Solo (PKMS) mulai mereduksi timbulnya permasalahan sosial.

”Saya yakin, siapa pun akan berpikir ulang jika mau bertindak anarkistis di Kota Solo. Sebab, semua warga bisa hidup tenang di Solo,” terang Fatimah, penjual baju di Pasar Klewer.

Fakta itulah yang secara tak langsung telah mempengaruhi psikologi warga Solo. Warga Solo, kata Murjioko, sekarang merasa terlindungi, merasa handarbeni dan merasa menjadi bagian utama dari benteng Kota Solo ini.

Pendapat warga juga diamini anggota DPRD Kota Solo, Honda Hendarto. ”Kalau saya melihat perkembangan sejauh ini di Kota Solo sangat positif. Harapan ke depan tentunya akan terus dipertahankan suasana yang kondusif, tanpa harus terjadi kerusuhan-kerusuhan. Kerusuhan-kerusuhan yang pernah terjadi dulu-dulu, cukup menjadi sejarah saja,” tegasnya. Dan sudah saatnya melupakan sejarah kelam itu karena Solo bukan lagi kota sumbu pendek.

Aries Susanto/Septhia Ryanthie

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…