Jumat, 23 September 2011 13:43 WIB Boyolali Share :

Air Umbul Langse melimpah, warga gelar tasyakuran

Anak-anak mandi bersama di Umbul Langse, Dukuh Lebak, Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali. Foto diambil pertengahan Mei 2011. (dok Solopos)

Boyolali  (Solopos.com)–Warga Dukuh Lebak, Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali akan menggelar tasyakuran pada Sabtu (24/9/2011) siang besok. Acara tasyukuran ini sebagai wujud syukur warga setempat atas melimpahnya air dari Umbul Langse.

Sebab, sejak enam tahun lalu umbul ini mati suri. Namun, beberapa bulan lalu umbul ini mulai mengeluarkan air.

“Syukuran ini adalah bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan atas anugrah air yang melimpah bagi warga kami,” terang salah satu Tokoh Masyarakat setempat, Jarot saat ditemui wartawan, Jumat (23/9/2011).

Jarot menambahkan tasyakuran dimulai dengan digelarnya ritual pada Sabtu siang. Ritual dimulai dengan dihelatnya salawatan kemudian disusul dengan dawetan yaitu membagikan minuman dawet kepada warga.

Bentuk rasa syukur ini berlanjut selepas magrib. Warga lebih dulu mempersiapkan sesaji dan kenduri berupa ayam serta panganan hasil bumi lainnya. “Sesaji ini kemudian dilepaskan atau dilarungkan ke dalam Umbul Langse,” imbuhnya.

Acara dilanjutkan dengan tirakatan yang diikuti tokoh masyarakat, agama serta warga setempat. Menurutnya, tasyakuran ini berlanjut hingga Minggu (25/9/2011) malam.  Sebuah pergelaran wayang menghadirkan Ki Anom Suroto sebagai dalangnya dengan lakon Umbul Sari.

Lebih lanjut Jarot menerangkan banyak warga setempat yang sangat diuntungkan dengan keluarnya lagi air dari Umbul Langse. Sebab, sejak beberapa tahun lalu umbul ini tidak mengeluarkan air. Selain itu, ratusan petani baik dari Teras dan Sawit juga ikut mendapat berkah dari sumber air ini.

“Meskipun musim kemarau debit air tetap banyak dan masih bisa mencukupi kebutuhan penduduk,” tandasnya.

(rid)

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…