AKOMODASI -- Suasana di salah satu kamar @Hom Hotel yang barus saja diresmikan, yang menambah jumloah hotel di Kota Solo. Prospek bisnis perhotelan di Solo saat ini diyakini masih cerah. (JIBI/SOLOPOS/dok) AKOMODASI -- Suasana di salah satu kamar @Hom Hotel yang barus saja diresmikan, yang menambah jumloah hotel di Kota Solo. Prospek bisnis perhotelan di Solo saat ini diyakini masih cerah. (JIBI/SOLOPOS/dok)
Minggu, 31 Juli 2011 14:58 WIB Ekonomi Share :

Pebisnis yakin pasar hotel bintang 2 dan 3 di Solo belum jenuh

Solo (Solopos.com) – Jumlah hotel di Solo dinilai belum mencapai titik jenuh. Director Operation Metropolitan Golden Management (MGM) (Jaringan Hotel Horison), Basari Bachri, mengatakan peluang perkembangan hotel masih terbuka, khususnya untuk hotel bintang dua dan bintang tiga.

AKOMODASI -- Suasana di salah satu kamar @Hom Hotel yang baru saja diresmikan, yang menambah jumlah hotel di Kota Solo. Prospek bisnis perhotelan di Solo saat ini diyakini masih cerah. (JIBI/SOLOPOS/dok)

Basari mengatakan banyaknya agenda Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE), termasuk banyaknya agenda wisata di Kota Bengawan menjadi daya tarik sendiri bagi tamu yang menginap di Solo. Menurut Basari hotel bintang dua dan bintang tiga dengan kisaran harga Rp 300.000-an hingga Rp 400.000-an/malam masih banyak peminat, sehingga masih mungkin berkembang.

“Pemerintah kota saja punya 34 event wisata setahun, ini pasti menarik banyak tamu. Hotel bintang dua dan bintang tiga dengan harga terjangkau sangat cocok untuk tamu itu, yang hanya membutuhkan fasilitas menginap dan sarapan,” jelas Basari, saat ditemui Espos, akhir pekan lalu.

Lebih jauh, Basari mengungkapkan di kota yang tengah berkembang seperti Solo, perkembangan hotel bintang dua dan bintang tiga bisa sangat bagus. Apalagi okupnasi hotel yang telah eksis di Solo, untuk kelas yang sama, telah mencapai lebih dari 50%. Di jaringan Hotel Horison sendiri, dia menyebut konsep hotel bintang dua dan bintang tiga memberi jaminan pengembalian investasi alias return on investment (ROI) masing-masing 4,5 tahun dan 6-7 tahun. “Pengembaliannya cepat asal dikelola dengan baik.”

Saat ini, dia menambahkan jaringan Horison akan mengelola tiga properti di Solo. Dua di antaranya milik Sritex Group, yaitu satu hotel bintang dua @Hom Hotel dengan 108 kamar dan satu hotel bintang tiga Horison Hotel dengan 256 kamar. Selain itu, Horison juga bakal mengelola vila hotel alias “vilatel” pertama di Jawa Tengah-DI Yogyakarta yang berlokasi di dekat Bandara Adi Sumarmo. “Vilatel” ini memiliki 50 unit vila dengan tiga tipe.

Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPIS), Bambang “Benk” Mintosih, kepada Espos, Minggu (31/7/2011), menyampaikan hal senada. Menurut Benk, hotel bintang dua dan bintang tiga sepanjang dikelola dengan baik akan cukup menguntungkan. Apalagi, hotel kelas tersebut saat ini memang cukup laris. Hotel bintang dua dan bintang tiga menjadi pilihan tamu dari biro wisata atau tamu-tamu yang datang ke Solo hanya untuk menikmati event wisata di Solo.

Benk menambahkan agar dapat bersaing dengan hotel yang telah eksis, pihak manajemen hotel harus selalu menerapkan prinsip efisiensi. Di antaranya, dengan menekan jumlah tenaga kerja yang semula dengan perbandingan tenaga kerja dan tamu 1:1, menjadi 0.6 atau 0,7:1 tamu. “Sama seperti di Jogja, yang terjadi di Solo juga begitu. Perkembangan hotel bintang dua dan bintang tiga bagus. Kalau bisa lebih efisien akan lebih baik,” ujar Benk.

tsa

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Lebaran Itu Buku

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Sabtu (24/6/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, esais sekaligus kuncen Bilik Literasi Solo. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh keluarga besar trah Niti…