Kepala BPS Sragen, Laeli Sugiyono (Tri Rahayu) Kepala BPS Sragen, Laeli Sugiyono (Tri Rahayu)
Sabtu, 30 Juli 2011 12:20 WIB Sragen Share :

BPS prediksi kemiskinan di Sragen capai 104.800 KK

Kepala BPS Sragen, Laeli Sugiyono (Tri Rahayu)

Sragen (Solopos.com)–Badan Pusat Statistik (BPS) Sragen mendata ulang kemiskinan di Bumi Sukowati mulai 15 Juli-15 Agustus. BPS memrediksikan sebanyak 104.800 KK atau 40% dari jumlah kepala keluarga (KK) di Sragen sebanyak 262.000 KK masuk kategori KK miskin.

Pendataan kemiskinan itu menghabiskan dana  Rp 1,034 miliar. Target KK miskin tersebut meningkat 16% dari jumlah KK miskin hasil pendataan tahun 2008 atau meningkat 10% dari data KK miskin tahun 2005. Kepala BPS Sragen, Laeli Sugiyono, saat dijumpai wartawan, Sabtu (30/7/2011), di kediamannya, mengungkapkan target pendataan KK miskin tahun ini memang dilonggarkan daripada pendataan tahun sebelumnya. Data KK miskin 2005 dan 2008 ikut dimasukkan dalam pendataan 2011.

“Selain menargetkan 40% dari jumlah KK hasil sensus penduduk 2010, tim pendataan juga menyisir penduduk di luar sensus yang jumlahnya diperkirakan hanya 5%. Sasaran pendataan dilaksanakan secara menyeluruh di 20 kecamatan, 208 desa dan 5.000 rumah tangga (RT),” tambahnya.

Menurut dia, pendataan kemiskinan ini bertujuan untuk updating data secara nasional. Data hasil sensus 2011 ini, terangnya, bakal digunakan sebagai acuan program penanggulangan kemiskinan, mulai dari program jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), beras miskin (Raskin), bantuan operasional sekolah (BOS) dan seterusnya.

Pendataan kali ini tidak lagi menggunakan kriteria kemiskinan BPS yang jadi acuan sensus sebelumnya, yakni 14 kriteria kemiskinan. Laeli menyatakan BPS menggunakan metodologi pendekatan masyarakat, yakni pendataan dengan melibatkan KK sangat miskin. “Kami menerjunkan sebanyak 464 petugas yang terbagi atas 66 tim. Rata-rata setiap kecamatan terdapat 2-6 tim pendataan,” jelasnya. Pendataan kemiskinan itu, lanjutnya, menghabiskan dana sampai Rp 1,034 miliar karena setiap petugas pencacah mendapat honor Rp 2,6 juta.

(trh)

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Pendidikan yang Memerdekakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (21/8/2017). Esai ini karya Mohamad Ali, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan pengasuh Perguruan Muhammadiyah Kota Barat, Solo. Alamat e-mail penulis adalah ma122@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO–Memasuki umur 72 tahun kemerdekaan…