Mardianto (JIBI/SOLOPOS/Ayu Abriyani KP)
Jumat, 29 Juli 2011 06:24 WIB Tokoh Share :

Mardianto, cacat bukan ukuran kemampuan

Pria kelahiran Sragen, 8 April 1950 ini bernama lengkap Mardianto. Semenjak ia kecelakaan tahun 1985, salah satu kakinya menjadi korban sehingga ia tidak dapat berjalan dengan sempurna.

Mardianto (JIBI/SOLOPOS/Ayu Abriyani KP)

Mardianto memiliki prinsip hidup untuk kepentingan umum terutama kepentingan sosial. Sejak masih bersekolah, ia kerap mengikuti berbagai organisasi mulai dari pramuka, Organisasi Siswa Intra Sekolah (Osis), hingga Resimen Mahasiswa (Menwa). Pria alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini sudah terjun menjadi pendidik sejak lulus kuliah.
Awalnya, ia bekerja di YPAC sebagai tenaga pendidik paruh waktu mulai tahun 1993 karena ia masih mengajar di sekolah umum saat pagi hari. Setelah pensiun tahun 2005, ia bisa berkecimpung di YPAC secara penuh. Kini, ia menduduki jabatan penting sebagai Ketua II Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Solo. Dalam mendidik anak-anak difabel di YPAC, ia selalu menerapkan rasa sosial dan kekeluargaan.

Ia selalu menekankan pada anak-anak difabel bahwa cacat atau tidak, bukan sebuah ukuran kemampuan. “Yang penting memiliki keterampilan dan anak-anak dapat mandiri, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraannya,” ungkapnya. Ia menambahkan, ada empat bidang di YPAC meliputi pelayanan medis, pendidikan, sosial dan keterampilan. Semua hal itu bertujuan meningkatkan keterampilan agar anak-anak dapat mandiri dan lebih sejahtera.

Saat ini hal yang menurutnya masih kurang diperoleh anak-anak difabel adalah minimnya pendidikan. Ia menuturkan, di Jawa Tengah hanya sekitar 22% dari jumlah total anak-anak difabel yang telah mengenyam pendidikan. Untuk itu, ia membuka YPAC secara luas agar anak-anak difabel yang belum mengenyam pendidikan dapat bersekolah di YPAC secara gratis.

Ia juga berharap agar pemerintah mendirikan sekolah inklusi di setiap daerah di Indonesia agar anak-anak difabel dapat
bersekolah. Selain itu, tenaga pendidik juga masih minim dan belum ada penambahan tenaga pendidik lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Ia ingin agar pemerintah segera menambah tenaga pendidik dan merealisasikan Perda Kota Solo No 2/2008 tentang Kesetaraan Difabel dengan memberikan alokasi anggaran dari APBD.

Kini, hanya satu impiannya yang belum tercapai. Ia ingin mendirikan bengkel keterampilan yang bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) dan Solo Techno Park (STP). “Dalam bengkel tersebut kami mengajak alumni YPAC untuk membuat kerajinan seperti kursi, meja, batik dan peralatan rumah tangga yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat umum,” terang ayah dari empat orang anak ini.

Ayu Abriyani KP_

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…