Ilustrasi (Dok. SOLOPOS)
Kamis, 28 Juli 2011 13:00 WIB News Share :

Penerbit buku di DIY terancam bangkrut

Ilustrasi (Dok. SOLOPOS)

Yogyakarta (Solopos.com)–Penerbit buku di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terancam bangkrut akibat biaya produksi yang tinggi terutama harga kertas yang terus naik.

“Biaya produksi yang cukup tinggi membuat penerbit terancam kolaps atau tutup,” kata Direktur Galangpress, Julius Felicianus di Yogyakarta, Kamis (28/7/2011).

Ia menuturkan di DIY terdapat sekitar 100 penerbit yang masih bertahan meski harus menanggung beban biaya produksi yang tinggi.

Selain harus menanggung beban biaya produksi yang tinggi, menurut dia, para penerbit  harus bersaing dengan beragam informasi maupun buku yang dijual lewat internet.

“Penerbit yang tidak produktif tentu akan kalah bersaing dengan pengusaha yang memanfaatkan internet,” lanjutnya.

Ia mengemukakan minat masyarakat untuk membeli buku semakin menurun karena mereka lebih memilih mencari informasi melalui internet.

“Informasi yang diunduh lewat internet lebih murah, sedangkan harga buku relatif lebih mahal,” urainya.

Salah satu upaya penerbit untuk bertahan, imbuh dia, adalah dengan menaikkan harga jual buku sebesar 20 persen.

“Harga kertas yang melambung memaksa kami untuk menaikkan harga buku hingga 20 persen untuk semua jenis buku dalam beberapa pekan ini,” jelasnya.

Menurut dia, kenaikan harga kertas membuat omzet penerbit buku menurun karena penerbit harus berbagi keuntungan dengan distributor buku, toko buku, dan menanggung biaya royalti.

“Dari seluruh hitungan keuntungan, para penerbit hanya mendapatkan keuntungan enam hingga tujuh persen dari hasil penjualan buku,” terangnya.

Ia menyebutkan keuntungan yang harus dibagi dalam penjualan buku adalah untuk distributor buku sebesar 50 persen, biaya royalti 20 persen dan 35 hingga 75 persen untuk toko buku.

Sementara itu, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DIY Akhmad Fikri mengemukakan bahwa kenaikan harga kertas akan diikuti dengan kenaikan harga buku di pasaran.

“Hasil pantauan kami menunjukkan harga kertas naik hingga 20 persen dalam beberapa pekan terakhir,” ucap dia.

Dia mencontohkan harga kertas plano sebelum terjadi kenaikan adalah Rp 220.000 per rim dan saat ini menjadi Rp 264.000.

“Kenaikan harga kertas terjadi akibat permintaan kertas yang tinggi untuk sejumlah daerah yang menggelar pemilihan kepala daerah,” pungkasnya.

(Antara/nad)

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…