Ilustrasi (Dok. SOLOPOS) Ilustrasi (Dok. SOLOPOS)
Kamis, 28 Juli 2011 06:12 WIB Solo Share :

Pemkot siap jadi mediator

Ilustrasi (Dok. SOLOPOS)

Solo (Solopos.com)–Pemerintah Kota (Pemkot) Solo siap menjadi mediator untuk penyelesaian polemik pemilihan Ketua Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK).

Saat belasan pedagang Pasar Klewer ngudarasa ke Wakil Walikota (Wawali) Solo, FX Hadi Rudyatmo, ia menyatakan siap menjadi mediator untuk penyelesaian masalah tersebut karena Pasar Klewer bukan milik HPPK semata, tetapi milik masyarakat Solo.

Ia ingin masalah itu tidak membuat hubungan antarpedagang yang satu dan lainnya menjadi tidak baik. Ia juga mengatakan permasalahan ini terlepas dari pro-kontra rencana revitalisasi Pasar Klewer.

”Yang penting masalah internal Pasar Klewer selesai terlebih dahulu, kemudian ke rencana yang lain,” ungkapnya saat berdiskusi dengan belasan pedagang Pasar Klewer di Rumah Dinas (Rumdin) Wawali, Rabu (27/7/2011).

Ia menegaskan persoalan itu harus segera diselesaikan karena apabila berlarut-larut semakin membuat pedagang resah. ”Yang rugi tidak hanya Pemkot, tetapi juga pedagang,” imbuhnya.

Pemkot berharap pedagang dan pembeli di Pasar Klewer selalu merasa aman dan nyaman. Sama halnya yang diungkapkan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Solo, Subagiyo, saat dihubungi Espos beberapa waktu lalu. Polemik yang terjadi di HPPK adalah masalah internal dan sebaiknya diselesaikan secara kekeluargaan, jadi ia tidak dapat ikut campur secara langsung.

Ia sanggup menjadi mediator untuk memberikan solusi dalam polemik tersebut, jika ada permohonan secara resmi ke DPP dari kedua belah pihak yang berseteru. ”Kami siap menjadi mediator dalam menyelesaikan masalah di HPPK. Hanya, kedua belah pihak harus melayangkan surat permohonan secara resmi ke DPP untuk menjadi mediator,” terangnya.

(aak)

lowongan kerja
lowongan kerja Kantor SD Aisyiyah Gemolong, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

senin 5 juni

Kolom

GAGASAN
Etika dan Hukum di Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/6/2017), Agus Riewanto, pengajar Fakultas Hukum UNS Solopos.com, SOLO–Baru saja kita melihat fenomena tindakan persekusi, yakni tindakan pemburuan secara sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga kemudian disakiti atau diintimidasi dan dianiaya karena mengekspresikan…