TAK SEKADAR KOPI -- Coffee shop Three Plus di Jalan Kapten Mulyadi, Karanganyar, tak hanya menyuguhkan kopi, namun juga santapan berupa olahan iga. (JIBI/SOLOPOS/Dina Ananti Sawitri Setyani)
Rabu, 27 Juli 2011 17:36 WIB Kuliner Share :

Kafe rumahan, lebih akrab dengan aneka sajian istimewa

TRADISIONAL -- Suasana tradisional bisa ditemukan di Kafe De Solo di Jalan dr Sutomo, Solo. (JIBI/SOLOPOS/ Dina Ananti Sawitri Setyani)

Siapa bilang kafe harus berupa tempat yang riuh rendah dengan orang yang lalu lalang dan musik yang biukin sumpek telinga. Kafe dengan suasana rumah pun bisa jadi pilihan untuk mencari suasana lain menyela rutinitas keseharian. Di Solo, ada sejumlah tempat yang bisa disambangi.

Coba langkahkan kaki memasuki Kafe De Solo di Jl Dr Sutomo 8-10, Solo. Alunan lembut musik gamelan menyambut kedatangan para tamu. Kafe yang menjadi satu bagian dari Boutique Hotel ini memang terbilang baru. Mengangkat tema etnik Solo, mereka berkomitmen membawa nuansa Jawa dalam hidangan maupun penataan interiornya. Mulai dari sudut kafe, lobi hingga sajian khasnya. Menurut Coordinator of Operational De Solo, Endriyanto, konsep yang dituangkan dalam penyajian masakan maupun interiornya adalah suasana rumah dengan sajian khas Jawa. Tentunya makanan ini bukan tanpa kombinasi, beberapa menu berselera internasional seperti Eropa, Jepang dan Indonesia jadi pelengkapnya.

“Mereka yang datang tentunya ingin suasana Solo yang begitu kental, mulai dari sajian makanan hingga suasananya. Welcome drink seperti gula asam dan dawet jadi pilihan yang menyegarkan,” ulas dia. Hidangan utama pun cukup menggoda lidah. Sebut saja menu unggulan seperti nasi bakar Kalitan ataupun tongseng De Solo yang bercita rasa gurih dengan bumbu rempah yang nendang.

Menurut Endriyanto yang akrab disapa Hendrik, nasi bakar tak hanya dibalut daun pisang tapi juga dimasukkan tempurung bambu kemudian dibakar. “Untuk pelengkapnya, ada rempeyek kacang, klengkam atau keripik kentang yang menambah cita rasa,” ungkapnya sembari berpromosi. Ada aroma sangit daun yang terbakar kala membuka bungkusan nasinya. Nasi yang sebelumnya dibumbui rempah dan aneka ikan laut menjadi sajian yang nikmat kala dinikmati pada siang maupun malam hari. Hendrik mengatakan nasi bakar ini memang diolah secara tradisional sehingga masih ada aroma bakaran yang khas.

TAK SEKADAR KOPI -- Coffee shop Three Plus di Jalan Kapten Mulyadi, Karanganyar, tak hanya menyuguhkan kopi, namun juga santapan berupa olahan iga. (JIBI/SOLOPOS/Dina Ananti Sawitri Setyani)

Lebih lanjut dia mengungkapkan tak hanya sajian makan tradisional saja yang menjadi favorit, aneka minuman seperti wedang alang-alang jadi sajian yang menyegarkan sekaligus menyehatkan. “Ada aneka rempah-rempah seperti serai dan daun jeruk yang diseduh dengan air panas. Rasa manisnya pun dari gula batu,” jelas Hendrik.

Kalau ingin suasana yang lebih modern, Verveto di kawasan Manahan dan Rocket di Baron, Laweyan, bisa jadi alternatif. Di luar Solo, ada coffee shop Three Plus yang beralamat di Jl Kapten Mulyadi, Karanganyar. Menurut pemilik Three Plus, Andry Endah, ruangan coffee shop yang dimanfaatkan tak lain adalah halaman depan teras dan ruangan di dalam rumah yang dirancang khusus untuk pertemuan bernuansa pribadi dengan kapasitas 15 orang. Meski namanya coffee shop, tak hanya kopi dan makanan ringan yangh dihidangkan, namun juga santapan seperti iga bakar maupun sup iga.

Dina Ananti Sawitri Setyani

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…