UANG DUKA -- Keluarga Ragil Pangestu menunjukkan kuitansi tanda penyerahan uang yang disebut sebagai uang duka dari RSUP dr Suradji Tirtonegoro Klaten. (JIBI/SOLOPOS/Moh Khodiq Duhri)
Rabu, 27 Juli 2011 19:25 WIB Klaten Share :

Hendak gugat RSUP Klaten terkait dugaan malpraktik, tim penasihat hukum keluarga mulai terjun

Klaten (Solopos.com) – Seorang anak berusia 6 tahun, Ragil Pangestu, meninggal dunia setelah menjalani operasi hernia di RSUP dr Suradji Tirtonegoro Klaten. Lantaran menduga kematian itu akibat kelalaian, keluarga korban berencana menggugat rumah sakit tersebut. Tim penasihat hukum keluarga pun mendatangi RSUP dr Soeradji Tirtonegoro, Rabu (27/7/2011), sekitar pukul 14.30 WIB. Namun tim penasihat hukum tersebut tak berhasil menemui direksi RSUP.

UANG DUKA -- Keluarga Ragil Pangestu menunjukkan kuitansi tanda penyerahan uang yang disebut sebagai uang duka dari RSUP dr Suradji Tirtonegoro Klaten. (JIBI/SOLOPOS/Muhammad Khamdi)

Tim tersebut bermaksud meminta keterangan langsung dari direksi RSUP terkait rencana Suparman, ayah korban, menggugat RSUP ke pengadilan. Suparman dan keluarganya melalui tim advokat curiga atas kematian Ragil, anak bungsu Suparman yang meninggal dunia seusai dioperasi di rumah sakit itu pada pertengahan Juli lalu. Sesampai di rumah sakit, tim tidak diperbolehkan menemui Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUP dr Soeradji Tirtonegoro, Djoko Windoyo. Alasan pihak RS, tim datang terlalu sore dan permasalahan kematian Ragil sudah menjadi kewenangan Direktur Utama RSUP dr Soeradji Tirtonegoro.

“Kami datang untuk berbicara langsung dengan direktur pelayanan medik. Namun, direktur tidak mau menemui kami, padahal yang mengetahui persis tentang jenis obat yang diberikan kepada Ragil itu adalah Pak Djoko Windoyo,” papar Nata Dwinugraha, ketua tim advokat keluarga Ragil. Berdasar kejadian tersebut, tim advokat mempunyai dugaan kuat ada sesuatu yang janggal dari kematian Ragil Pangestu. “Dalam waktu dekat ini, kami akan mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Klaten. Pekerjaan kami sekarang mencari alat bukti yuridis,” terang Nata Dwinugraha.

Nata menjelaskan pihaknya sudah memiliki beberapa alat bukti pendukung untuk melaporkan pihak rumah sakit ke pengadilan. “Ada beberapa bukti kuat terkait kesalahan yang dilakukan oleh pihak RS. Jika sudah cukup bukti, kami tidak akan menunggu lama untuk melaporkan RSUP Soeradji Tirtonegoro ke polisi,” paparnya. Menurut Nata, seharusnya pihak rumah sakit menerangkan terlebih dahulu risiko terparah yang mungkin bisa dialami oleh pasien saat dioperasi. Namun, imbuh Nata, pihak keluarga Ragil hanya disodori surat persetujuan operasi tanpa memberi keterangan sedikit pun tentang sebab dan akibat penggunaan obat penenang tersebut.

“Setiap orang berbeda dalam hal penanganan medis.Bisa jadi ketika obat penenang itu diberikan kepada si A bisa berakibat baik, namun jika obat serupa diberikan kepada si B, kemungkinan berisiko kematian. Mengapa ini tidak diterangkan kepada keluarga? Kasihan keluarga Suparman yang berpendidikan rendah itu,” tutur Indriyarto, anggota tim advokat yang turut serta datang ke RSUP Klaten itu.

Ketika dimintai konfirmasi, Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUP dr Soeradji Tirtonegoro, Djoko Windoyo, menerangkan obat penenang yang diberikan kepada Ragil Pangestu sesuai dengan prosedur tetap penanganan pasien sebelum menjalani operasi. “Masak dokter kami memberikan obat penenang yang salah, tidak mungkin itu terjadi. Kami lakukan itu sesuai prosedur dan tidak menyalahi aturan. Adapun kematian Ragil karena memang sudah takdir. Kok ya pas yang apes RSUP Soeradji Tirtonegoro,” terang Djoko.

Ragil merupakan anak pasangan Suparman, 40, dan Sriyatun, 35, warga Dukuh Tegalrejo, Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Klaten. Bocah yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) tersebut meninggal pada pertengahan Juli lalu sesaat setelah menjalani operasi hernia di RSUP dr Soeradji Tirtonegoro. Djoko menerangkan kematian Ragil akibat alergi obat alergesik atau pengurang rasa sakit. Dan pihak RS sudah menjalankan operasi hernia tersebut sesuai dengan prosedur tetap.

m98

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…