DATANGI POLSEK-Sebagian anggota Koperasi GR, Dusun Kenteng Kaliampo, Ngadirojo Kidul, Ngadirojo, Wonogiri mendatangi Mapolsek Ngadirojo. Foto diambil, Selasa (26/7). DATANGI POLSEK-Sebagian anggota Koperasi GR, Dusun Kenteng Kaliampo, Ngadirojo Kidul, Ngadirojo, Wonogiri mendatangi Mapolsek Ngadirojo. Foto diambil, Selasa (26/7).
Selasa, 26 Juli 2011 22:09 WIB Wonogiri Share :

Pengelola koperasi menghilang, anggota resah

Wonogiri (Solopos.com) – Seratusan anggota Koperasi GR yang beroperasi di Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri resah. Keresahan itu dipicu karena menghilangnya pengelola koperasi itu, Hartono.

DATANGI POLSEK -- Sebagian anggota Koperasi GR, Dusun Kenteng Kaliampo, Ngadirojo Kidul, Ngadirojo, Wonogiri mendatangi Mapolsek Ngadirojo untuk melaporkan menghilangnya pengelola koperasi. Foto diambil, Selasa (26/7/2011). (JIBI/SOLOPOS/Trianto Hery Suryono)

Kapolsek Ngadirojo AKP Darmanto mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP NI Ketut Swastika saat ditemui Espos di kantornya, Selasa (26/7/2011), menyatakan, aset koperasi milik Hartono senilai lebih dari Rp 500 juta. “Jumlahnya mungkin lebih dari itu karena masih ada juga investasi dari penanam saham,” katanya.

Informasi yang dihimpun Espos, Hartono atau Leo telah pergi dari rumahnya sejak Jumat (22/7/2011), sore. Menurut Seno dan Katiyo, keduanya tetangga, kepergian Hartono tidak diketahui warga ataupun tetangga dekat. “Jumat pagi, kami masih bertemu Hartono namun Sabtu (23/7) banyak orang berdatangan ke rumahnya. Kami curiga dan menanyakan kepada mereka ada keperluan apa mencari Hartono dan dijawab ingin menanyakan uang yang telah disetorkan,” jelas Seno. Akhirnya para anggota koperasi itu mencoba masuk rumah Hartono. “Ada warga yang ingin masuk lewat genteng dan ada juga yang ingin mendobrak pintu namun semua bisa dikendalikan setelah polisi datang. Sebagian warga melaporkannya ke Polsek,” jelasnya.

Kapolsek Ngadirojo, AKP Darmanto menjelaskan, bidang usaha koperasi terdiri atas penanaman saham, arisan dan simpan pinjam. “Kami masih melakukan penyelidikan dan meminta keterangan kepada anggota koperasi. Modus yang dilakukan Hartono, peminjam dana diminta menyerahkan sertifikat atau BPKB. Peminjam diajak ke notaris untuk balik nama sertifikat atau BPKB,” jelasnya.

Sementara itu, beberapa anggota koperasi, Ny Naryo, Tukiyo dan Ny Marni, asal Ngadirojo mengaku hanya ikut program arisan. Ketiganya mengaku khawatir karena tiga hari arisan tidak berjalan. “Arisan digelar setiap hari. Besaran arisan dari Rp 35.000 hingga Rp 50.000. Setiap hari dikopyok namun sudah tiga hari berhenti kami khawatir tidak selesai,” ujar Tukiyo.

tus

lowonga kerja
lowongan kerja penerbit duta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Ketahanan Psikologis Mencegah Pelajar Bunuh Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/6/2017). Esai ini ditulis Ahmad Saifuddin, dosen di Institut Agama Islam Negeri Surakarta dan Sekretaris Lakpesdam PCNU Kabupaten Klaten. Alamat e-mail penulis adalah ahmad_saifuddin48@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Pada Sabtu (3/6/2017) saya terkejut ketika membaca Harian…