Selasa, 26 Juli 2011 13:04 WIB Wonogiri Share :

53,5 % Koperasi di Wonogiri tak aktif

Wonogiri (Solopos.com)–Separuh atau sekitar 53,5% jumlah koperasi di Wonogiri tidak aktif. Ketidakaktifan koperasi diukur dari kegiatan menggelar rapat anggota tahunan (RAT). Dari jumlah itu sebagian di antaranya tidak berpapan nama.

Pernyataan itu disampaikan Pj Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Penananaman Modal (Diperindagkop UMKM dan Pendal), Reni Ratnasari didampingi Kasi Koperasi, Wukir Sumedi saat ditemui Espos di sela-sela upacara Hari Koperasi ke-64 di Alun-alun Giri Krida Bakti, Wonogiri, Senin (25/7/2011

“Kami terus-menerus melakukan pembinaan dan mendorong kepada pengurus koperasi agar lebih aktif. Ke-53,5% koperasi tak aktif itu terjadi di koperasi umum,” jelas Reni.

Ia menjelaskan jumlah koperasi di Wonogiri sebanyak 7.695 buah terdiri atas 6.712 koperasi rukun tetangga (RT) dan sisanya 783 koperasi umum. Menurutnya, koperasi umum terdiri atas koperasi pegawai negeri, koperasi simpan pinjam ataupun koperasi unit desa (KUD).

Ditambahkan oleh Wukir, hasil pemantauannya, sebanyak 364 atau 46,5% berpredikat aktif dan 419 atau 53,5% koperasi tak aktif. Dijelaskan oleh Wukir, booming pendirian koperasi terjadi pada 2008.

“Waktu itu muncul program KUT (kredit usaha tani) sehingga rakyat berlomba-lomba mendirikan koperasi. Pendirian koperasi untuk meraih proyek, setelah proyek berlalu keberadaan koperasi tidak terurus.”

Diceritakannya, pihaknya sering melakukan pemantauan lapangan. “Hasilnya, banyak koperasi tidak memiliki papan nama. Jika pengurus koperasi masih ada, kami sarankan untuk mengaktifkan kembali namun kalau dijawab tidak diaktifkan dinas akan memproses pembatalan badan hukumnya.”

Sementara itu, Ketua KUD Ngadirojo, H Djijo mengatakan, saat ini posisi KUD bisa dibilang hidup segan mati pun tidak mau. Menurutnya, posisi KUD sangat terjepit dengan menjamurnya koperasi-koperasi baru. “Usaha yang ditangani semakin tidak ada. Mau bekerjasama dengan PLN guna pembayaran listrik, pihak PLN telah menyerahkan ke pasar bebas. Demikian juga penyaluran pupuk sudah ditangani oleh distributor. Mau membeli hasil bumi, modal tidak punya. Sekarang kami membuka usaha Warnet.”

(tus)

lowongan pekerjaan
SOLO GRAND MALL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…