BATU BONANG--Kepala Desa Jagalan, Bety Kristanti, (tengah) ditemani dua warga sedang memegang bebatuan mirip alat musik bonang di area permakaman Duwet, Dukuh Kembanggede, Desa Jagalan, Kecamatan Karangnongko. (JIBI/SOLOPOS/Muhammad Khamdi) BATU BONANG--Kepala Desa Jagalan, Bety Kristanti, (tengah) ditemani dua warga sedang memegang bebatuan mirip alat musik bonang di area permakaman Duwet, Dukuh Kembanggede, Desa Jagalan, Kecamatan Karangnongko. (JIBI/SOLOPOS/Muhammad Khamdi)
Minggu, 24 Juli 2011 15:44 WIB Travel Share :

Karangnongko, permata wisata candi yang belum terolah

Begitu banyak peninggalan bersejarah di berbagai sudut daerah yang berpotensi menjadi lokasi wisata unggulan, namun belum terpetakan. Contohnya saja adalah temuan tim peneliti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng di Kecamatan Karangnongko, Klaten. Setelah beberapa pekan meneliti, mereka menemukan lima situs purbakala. Berdasar penelitian itu, Karangnongko potensial jadi kawasan wisata seribu candi.

BATU BONANG--Kepala Desa Jagalan, Bety Kristanti, (tengah) ditemani dua warga sedang memegang bebatuan mirip alat musik bonang di area permakaman Duwet, Dukuh Kembanggede, Desa Jagalan, Kecamatan Karangnongko, Klaten. (JIBI/SOLOPOS/Muhammad Khamdi)

Jika dilihat, temuan yang ada memang sangat menarik. Di Permakaman Duwet, Dukuh Kembanggede, Desa Jagalan misalnya, bisa ditemukan belasan batu berbentuk mirip gamelan bonang yang terpendam. Batu kuno berdiameter sekitar 20 centimeter itu ditemukan warga sekitar tempat itu pada 1980-an. Bebatuan itu terpendam di tanah secara terpisah. Warga sekitarnya tidak banyak tahu dari mana asal bebatuan tersebut. Sejumlah warga dan tokoh masyarakat setempat berkisah, warga di luar Desa Jagalan kerap mendengar suara mirip irama gamelan dari arah batu yang sebagian mirip puncak stupa tersebut. Namun, setelah didekati, suara itu berangsur-angsur hilang dan tidak tampak aktivitas apa pun.

Cerita lain, keberadaan batu kuno itu menarik perhatian dari beberapa paranormal dari luar Klaten. Menurut keterangan beberapa paranormal yang disampaikan kepada warga sekitar, di bawah batu itu tersimpan harta karun. Namun, setelah dilakukan upacara ritual di area itu, sejumlah paranormal tak mampu mengangkat batu-batu tersebut. Warga sekitar juga tidak tahu batu-batu itu merupakan salah satu situs purbakala yang diduga sudah ada sejak abad ke-8 hingga abad ke-9 atau peninggalan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra, satu zaman dengan pembangunan Candi Prambanan. Hal itu sesuai temuan dan survei tim BP3 Jateng beberapa pekan terakhir.

”Warga di sini tidak tahu batu-batu itu merupakan situs purbakala karena dan berada di sana sejak ratusan tahun lalu,” papar Kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Jagalan, Surono. Surono yang rumahnya berdekatan dengan area permakaman mengatakan dalam beberapa pekan terakhir tim BP3 Jateng sering mengecek bebatuan kuno tersebut.

Kepala Desa Jagalan, Bety Kristanti, menyatakan keberadaan batu-batu itu sudah lama diketahui warga. Namun, mayoritas warga tidak mengerti batu-batu itu merupakan situs purbakala. “Sejak saya menjadi kepala desa di sini, tidak pernah didatangi pihak BP3 Jawa Tengah,” paparnya.

Di lokasi terpisah, tepatnya di area persawahan Dukuh Karangnongko, Desa Karangnongko, juga terdapat tumpukan batu-batu kuno. Warga menyebut lokasi itu sebagai Sumur Bandung atau Candi Karangnongko. Konon, batu-batu itu ditemukan pada 1970-an. Disebut Sumur Bandung karena di sisi timur bebatuan terdapat mata air di bawah bebatuan besar. “Mungkin dulu ini tempat persembahyangan kaum beragama Hindu,” tutur salah seorang penjaga Sumur Bandung, Suprihatin, di lokasi. Suprihatin yang sudah 20 tahun menjaga Sumur Bandung kerap didatangi orang yang bermaksud meneliti bebatuan itu. Pengamatan Espos, batu-batu yang sebagian besar tertata sebagai dasaran sebuah bangunan itu mengelilingi batu besar yang terpendam di dalam tanah.

SITUS KUNO -- Situs Sumur Bandung yang juga sering disebut Candi Karangnongko yang terletak di kawasan persawahan Dukuh Karangnongko, Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, Klaten. (JIBI/SOLOPOS/Muhammad Khamdi)

Tim BP3 Jateng, setelah meneliti kawasan Kecamatan Karangnongko beberapa pekan terakhir, menemukan lima situs purbakala di wilayah itu. Kelima situs tersebut yakni Situs Bekelen, Situs Jagalan, Situs Kriyan, Candi Karangnongko dan Situs Gemampir. Kelimanya diduga sudah ada sejak abad ke-8. ”Lima situs ini kami temukan berdekatan dengan Candi Merak yang kesemuanya berada di Kecamatan Krangnongko, Klaten,” ungkap Ketua Kelompok Kerja Publikasi BP3 Jateng, Wahyu Kristanto.

Wahyu menerangkan kelima situs purbakala tersebut diduga merupakan situs Hindu dan Buddha peninggalan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra atau buatan era abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, satu zaman dengan pembangunan Candi Prambanan. Dia menduga dulu Kecamatan Karangnongko merupakan sebuah kawasan kerajaan, mengingat di kecamatan itu juga ditemukan Candi Merak yang kini sudah purnapugar. ”Atas temuan ini, BP3 Jateng akan bekerja sama dengan Balai Arkeologi untuk menindaklanjuti temuan ini dengan mengkaji dan meneliti lebih lanjut, kemudian melestarikannya,” terangnya.

Ketua Pokja Pemugaran BP3 Jateng, Sudarno, mengatakan upaya pelestarian situs-situs ini akan dilakukan dengan beberapa langkah yang telah disiapkan. Salah satunya dengan mempersiapkan juru pelihara situs purbakala yang akan ditugaskan untuk memelihara bangunan-bangunan tersebut. “Harapannya, Kecamatan Karangnongo menjadi kawasan wisata seribu candi, seperti Prambanan,” terangnya

Muhammad Khamdi

Peta menuju wilayah Kecamatan Karangnongko, Klaten, dari Kota Solo:


Lihat Peta Lebih Besar

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Masih Ingin Jadi Pengarang?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (22/6/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, seorang penulis, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulias adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Timbul perasaan sedih, geram, geli, sekaligus haru tatkala membaca…