Sabtu, 23 Juli 2011 01:31 WIB Boyolali Share :

Pemkab Boyolali tetap teruskan program transmigrasi

Boyolali (Solopos.com)–Pemkab Boyolali akan tetap meneruskan program transmigrasi tahun depan meskipun nasib nahas dialami para transmigran program Transmigrasi Swakarsa Mandiri (TSM) 2010 di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Penelantaran oleh Pemkab setempat yang menimpa ratusan kepala (KK) transmigran termasuk 15 KK asal Boyolali justru dijadikan bahan evaluasi besar-besaran untuk pelaksanaan program serupa ke depannya. Bahkan tahun ini, Pemkab menyasar empat daerah tujuan transmigrasi.

“Daerah tujuan transmigrasi ada di Kalimantan dan Sulawesi,” terang Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Boyolali, Mulyatno kepada wartawan, Jumat (22/7/2011).

Ditambahkan, keempat daerah itu adalah Lamandau, Kalimantan Tengah dan Sambas, Kalimantan Barat, Tujuh Una Una Sulawesi Tengah dan Majene, Sulawesi Barat. Diperkirakan jumlah transmigran sekitar 40 KK atau 10 KK untuk setiap lokasinya. Diakui, kejadian yang menimpa para transmigran di Kutai Timur berpengaruh pada program selanjutnya. Pihaknya pun akan lebih mengintensifkan penjajakan.

Penjajakan dilakukan oleh para petugas. Mereka dibekali kuisioner untuk mengecek terutama kesiapan lahan garapan daerah tujuan. Di antaranya, status lahan, sarana dan prasarana, serta kondisi sosial masyarakat setempat. Begitu halnya dengan kondisi dan respon pejabat di tempat tujuan.  Pihaknya juga akan melakukan kerja sama antar daerah (Ksad) atau memorandum of understanding (Mou). “Kerja sama ini meliputi hak-hak normatif transmigran, serta hak dan kewajiban daerah pengirim,” paparnya.

Bahkan, ia juga akan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi untuk pembekalan masalah sosial budaya kepada calon transmigran. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman terutama soal sosial budaya dengan masyarakat setempat.

Di sisi lain, ia menuturkan data terakhir dari dinas menyebutkan sebanyak 12 KK dipekerjakan di perkebunan kelapa sawit di Muara Leka, Kutai Kartanegara, satu KK masih di Kaltim dan ingin pulang ke Boyolali. Sementara satu KK sudah pulang dan akan kembali ke Kaltim. Sedangkan satu KK masih bertahan di lokasi transmigrasi di Kaliorang, Kutai Timur.

“Kami masih memperjuangkan agar transmigran dapat memperoleh kembali hak-hak normatifnya,” terangnya. Menurutnya, pekerjaan di perusahaan perkebunan hanya sementara. Pemkab masih mengupayakan agar mereka kembali ke lokasi transmigrasi semula.

Pemerintah pusat menegaskan tidak ada relokasi bagi para transmigran. Menurutnya, relokasi membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebab, terkait dengan berbagai hal seperti pembebasan lahan dan sebagainya.

Selain itu, Bupati Boyolali juga sudah menyiapkan bantuan bagi para  transmigran terlantar. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban para transmigran. Sebab untuk ikut TSM ini mereka harus menyiapkan dana sekitar Rp 7,5 juta.

(rid)

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…