ilustrasi (dok Solopos)
Sabtu, 23 Juli 2011 12:42 WIB Klaten Share :

Keberadaan Anjal di Klaten merebak

ilustrasi (dok Solopos)

Klaten (Solopos.com)--Keberadaan anak jalanan (Anjal) di Klaten kian banyak. Kendati demikian, penanganan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten belum maksimal.

“Dari dulu, tidak pernah ada dana APBD dialokasikan untuk menangani anak jalanan,” kata Sriyono dari LSM BLHI (Bina Lingkungan Hidup Indonesia) Klaten, saat ditemui Espos, di Klaten, Jumat (22/7/2011) .

Baru beberapa waktu lalu, Sriyono mengusulkan kepada Pemkab Klaten, agar mengalokasikan anggaran untuk menanganani Anjal. Dana itu nantinya dipergunakan untuk rumah singgah. Di samping itu, imbuhnya, anak-anak itu diberi bekal pendidikan informal, baca tulis, bekal ketrampilan, bekal moral dan pendidikan agama, pengetahuan kesehatan, dan sebagainya. “Dalam amanat undang-undang terpapar bahwa anak fakir miskin dan terlantar dipelihara negara. Dan hal itu harus direalisasikan,” terangnya.

BLHI mengetuk hati nurani birokrasi pemerintahan maupun wakil rakyat, untuk menaruh kepedulian terhadap nasib Anjal. Menurutnya, di Pemkab Klaten masih banyak gedung perkantoran yang menganggur. “Ini bisa dimanfaatkan untuk kegiatan rumah singgah. Dalam pembinaan anjal harus bekerjasama. Tugas mengisi pendidikan informal atau luar sekolah dari Dinas Pendidikan. Kalau ketrampilan bisa mendatangkan petugas dari Dinsosnakertran, dan dinas terkait lainnya,” tegasnya.

Sriyono minta agar Anjal diberdayakan sesuai potensinya. Ia yakin mereka bisa dientaskan selama diberi ketrampilan. Aktivis lingkungan hidup ini menentang adanya operasi razia Anjal. Tindakan ini tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi, setelah merazia Anjal kemudian “dilempar” ke daerah tetangga.

Demikian juga hal yang sama dilakukan pemerintah daerah tetangga. Tindakan semacam ini tak bisa menyelesaikan masalah. “Jangan diperlakukan Anjal seperti hewan, hanya bikin pandangan jorok perkotaan saja. Mereka juga manusia, keberadaanya dilindungan undang-undang,” tambahnya.

Bedasar pengamatan BLHI, Anjal berasal dari berbagai latar belakang. Ada dari keluarga broken home, pelarian, atau memang yang bersangkutan lahir dari orangtua gelandangan juga. Sriyono tak sependapat dengan langkah razia yang dilakukan Polres Klaten belum lama ini.

Sementara pemerhati anak Klaten, Komariyah, menyatakan  keberadaan anjal di Klaten sudah mendapat perhatian dari Pemkab Klaten. Kendati demikian, rumah singgah untuk anjal di Klaten belum ada. “Kalau sudah ada rumah singgah bagi anjal lebih efektif lagi untuk pembinaan, baik dari pendidikan ketrampilan maupun jaminan kesehatan,” paparnya kepada Espos, Jumat.

(m98)

lowongan pekerjaan
Fila Djaya Plasindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bersenang-Senang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini terjadi perubahan secara radikal pada lanskap ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sektor bisnis konvensional…