AMBLES--Ladang tegalan di Dukuh Sidorejo, Desa Jatibatur, Gemolong, Sragen ambles sedalam 10 meter, Jumat (22/7). Warga setempat khawatir amblesan tanah meluas. (JIBI/SOLOPOS/Chrisna Chanis Cara) AMBLES--Ladang tegalan di Dukuh Sidorejo, Desa Jatibatur, Gemolong, Sragen ambles sedalam 10 meter, Jumat (22/7). Warga setempat khawatir amblesan tanah meluas. (JIBI/SOLOPOS/Chrisna Chanis Cara)
Jumat, 22 Juli 2011 22:29 WIB Sragen Share :

Tanah tegalan di Jatibatur, Gemolong, Sragen ambles, petani kebingungan

Sragen (Solopos.com) – Tanah tegalan di Dukuh Sidorejo, Jatibatur, Gemolong, ambles sedalam 10 meter sejak sebulan lalu. Tanah tersebut semula baru ambles sedalam tiga meter pada Maret lalu. Akibatnya, petani mengalami kerugian sampai puluhan juta rupiah karena tanah itu tidak bisa ditanami dan berpotensi menutup saluran air irigasi.

AMBLES--Ladang tegalan di Dukuh Sidorejo, Desa Jatibatur, Gemolong, Sragen ambles sedalam 10 meter, Jumat (22/7). Warga setempat khawatir amblesan tanah meluas. (JIBI/SOLOPOS/Chrisna Chanis Cara)

Berdasarkan pantauan Espos, Jumat (22/7/2011), tanah yang ambles meluas ke tegalan di sekitarnya. “Bencana ini cukup bahaya kalau tidak segera ditangani. Bisa-bisa semua ladang petani ambles semua dan tidak bisa ditanami,” ujar Tukimin, 53, salah seorang petani korban tanah ambles. Tukimin mengungkapkan, ladang sekitar lokasi longsor menunjukkan tanda keretakan setelah hujan mengguyur dukuh selama sebulan terakhir. Tukimin mendesak kepada pemerintah setempat agar segera menangani tanah ambles itu. “Ladang saya yang ambles lebih dari 5.000 meter persegi. Kerugiannya sampai puluhan juta. Saya harap pemerintah ada perhatian,” tuturnya.

Komentar serupa disampaikan Rejo Semito, 60. Petani itu terpaksa merelakan 2.500 meter persegi ladangnya ambles. Dia berharap pemerintah memberi bantuan kepada para petani korban tanah ambles. “Separuh lebih ladang saya ambles. Hasil panen otomatis tak seperti yang dulu. Petani hanya minta kejelasan, mau dibawa ke mana nasib kami ini,” kata Rejo.

Di samping menggerus ladang Tukimin dan Rejo, peristiwa tanah ambles itu juga terjadi di ladang milik Pariman, 50 dan Kasidi, 54, petani asal Sidorejo, Jatibatur. Rejo memperkirakan ambleasn tanah akan berdampak pada petani di Desa Brangkal, Plupuh. Amblesan tanah itu, imbuhnya, berpotensi menutup aliran saluran air irigasi ke Brangkal.

Kepala Desa Jatibatur, Supadi, mengaku hingga kini belum ada respons positif dari Pemkab ihwal peristiwa tanah ambles tersebut. Sebelumnya, pihak pemerintah desa (Pemdes) sudah melaporkan kejadian itu kepada Dinas Sosial Sragen. “Sampai saat ini belum ada kabar lagi. Kami hanya bisa menunggu,” ujarnya.

m99

Distributor Simas & Bimoli, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kota Penyair Perlawanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (16/8/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dalam rangka memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1982,…