Ilustrasi (JIBI/dok)
Jumat, 22 Juli 2011 09:01 WIB Solo Share :

Rencana pembelian lahan makam gagal

Ilustrasi

Solo (Solopos.com)–Rencana pembelian lahan makam di luar Kota Solo sebagai antisipasi kritisnya lahan makam belum bisa direalisasikan pada tahun ini lantaran keterbatasan anggaran terutama pada anggaran perubahan.

Hal tersebut disampaikan salah seorang anggota Pansus Pemakaman DPRD Solo, Asih Sunjoto Putro, Kamis (21/7/2011).

Dia mengatakan tidak mungkin memasukkan rencana pembelian lahan makam di luar Kota Solo lantaran dana yang tersisa dalam anggaran perubahan nanti sangat terbatas.

”Wacana pembelian lahan makam di luar kota memang sempat mengemuka dalam pembahasan Pansus. Namun wacana itu tidak bisa direalisasikan karena anggaran perubahan nantinya kemungkinan sangat terbatas,” ujarnya.

Padahal, menurut Asih, Kota Solo membutuhkan tambahan lahan makam paling tidak 60 hektare (ha). Mempertimbangkan luasnya lahan makam tersebut, rencana penambahan lahan tidak mungkin bisa dilakukan di Kota Bengawan. Sehingga yang paling memungkinkan untuk ekspansi lahan makam adalah di daerah luar kota.

”Perluasan lahan makam memang solusi yang paling memungkinkan dibanding pelarangan cungkup, kijing ataupun makam tumpuk. Sebabnya, saat ini juga masih banyak pro-kontra soal apakah aturan nantinya bisa berlaku surut ataukah tidak. Memang lebih bagus apabila aturan berlaku surut, namun kan tidak tahu juga bagaimana pendapat masyarakat,” tandasnya.

Melanjutkan rencana pembelian lahan makam di luar Kota Solo, sambung Asih, dibutuhkan anggaran paling tidak Rp 120 miliar.

Ketua Pansus Pemakaman DPRD Solo, Kusrahardjo, mengungkapkan rencana pembelian lahan makam memang belum bisa dilaksanakan pada tahun ini.

”Rencana pembelian lahan itu perlu karena memang kita menghadapi krisis. Namun memang untuk realisasi belum bisa tahun ini. Tidak apa-apa kalau memang belum bisa tahun ini yang penting sudah ada rencana sebagai langkah antisipasi,” tegasnya.

(aps)

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…