SIDAK MAKANAN -- Tim gabungan dari Pemkab Klaten melakukan inspeksi mendadak di Pasar Wedi Klaten, Kamis (21/7). Di pasar ini, tim gabungan menemukan beberapa makanan yang terindikasi mengandung zat formalin. (JIBI/SOLOPOS/Moh Khodiq Duhri)
Kamis, 21 Juli 2011 16:44 WIB Klaten Share :

Tim gabungan Pemkab Klaten temukan makanan berformalin

Klaten (Solopos.com) – Tim gabungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten menemukan beberapa makanan yang diduga mengandung formalin dalam inspeksi mendadak (Sidak) yang digelar di sejumlah pasar tradisional dan swalayan, Kamis (21/7/2011).

SIDAK MAKANAN -- Tim gabungan dari Pemkab Klaten melakukan inspeksi mendadak di Pasar Wedi Klaten, Kamis (21/7/2011). Di pasar ini, tim gabungan menemukan beberapa makanan yang terindikasi mengandung zat formalin. (JIBI/SOLOPOS/Moh Khodiq Duhri)

Tim gabungan itu terdiri atas perwakilan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindag & UMKM); Dinas Kesehatan (Dinkes); Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Rumah Pemotongan Hewan; dan Bagian Perekonomian. Tim gabungan melakukan sweeping atau penyisiran di Pasar Wedi, Pasar Bayat, Pasar Cawas, serta sejumlah swalayan di Klaten. Di Pasar Wedi, tim gabungan menemukan beberapa bahan makanan seperti tahu, cumi-cumi, dan bakmi yang diduga mengandung formalin. Dugaan itu berdasarkan ciri-ciri fisik dari bahan makanan tersebut.

Dari hasil pemeriksaan, tahu yang dijajakkan seorang pedagang terindikasi mengandung formalin lantaran memiliki kekenyalan tinggi. Di tempat lain, tim gabungan juga menemukan bakmi yang terlihat mengkilat seperti berminyak dan cumi-cumi yang dijual dalam keadaan lembek. “Berdasarkan ciri-ciri fisik makanan tersebut diduga mengandung formalin. Namun untuk membuktikannya, sampel makanan itu akan kami uji di laboratorium,” tukas salah satu anggota tim gabung dari Dinkes, Mentes Hartini kepada wartawan di lokasi.

Selanjutnya, tim gabungan memberikan teguran kepada para pedagang yang diduga menjual makanan berformalin itu. Sebagian pedagang tidak tahu menahu tentang kandungan makanan yang dijual mereka. “Tahu ini saya dapatkan dari pabrik di Jogonalan. Saya hanya menjualnya ke pasar,” tukas Sumini, 40, salah seorang penjual.

Selain menemukan makanan yang diduga mengandung formalin, tim gabungan juga menemukan sejumlah makanan ringan yang tidak disertai label tanggal kedaluwarsa. Kepada para pedagang yang menjual makanan itu, tim gabungan memberikan pembinaan. Para pedagang berdalih, mereka hanya dititipi makanan ringan itu dari pedagang lain. “Biasanya setiap 3-4 hari sekali, makanan itu diambil pemiliknya. Dengan begitu, makanan yang dijual tidak sampai kadaluwarsa,” kata Surip, 41, salah seorang pedagang.

Tim gabungan juga memeriksa tingkat keasaman atau pH pada sejumlah daging yang dijual di pasar. Dari hasil pemeriksaan, kadar pH dalam daging mencapai 5-6. “Kadar pH 5-6 itu menunjukkan bahwa kondisi daging itu masih normal dan layak dikonsumsi,” kata Kabid Perdagangan pada Disperindagkop dan UMKM, Sigit Gatot.

mkd

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…