ilustrasi (dok Solopos) ilustrasi (dok Solopos)
Kamis, 21 Juli 2011 13:30 WIB Wonogiri Share :

Redistribusi guru belum sesuai harapan

ilustrasi (dok Solopos)

Wonogiri (Solopos.com)–Upaya redistribusi guru untuk pemerataan pelayanan pendidikan terus dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) Wonogiri. Namun demikian, upaya itu belum membuahkan hasil sesuai harapan. Hingga saat ini, masih terjadi penumpukan di wilayah perkotaan dan kekurangan di wilayah pinggiran.

Hal itu masih ditambah kurangnya jumlah guru untuk mata pelajaran tertentu sementara pada mata pelajaran lainnya justru berlebih.  Untuk SMP dan SMA/SMK, mata pelajaran yang gurunya berlebih itu di antaranya PPKn dan Bahasa Indonesia, sedangkan mata pelajaran yang jumlah gurunya kurang antara lain Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, Elektro, Komputer, dan Bimbingan Konseling (BK).

Ditemui Espos seusai rapat koordinasi redistribusi guru yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Wonogiri, Rabu (20/7/2011), Kepala Bidang SMP/SMA Disdik, Tunggal Widodo mengungkapkan redistribusi guru di Wonogiri saat ini sudah memasuki tahap ketiga. “Hari ini (kemarin-red) kami mengumpulkan kepala-kepala SMP dan SMA untuk mengklarifikasi data yang diusulkan oleh pihak sekolah yang memiliki jumlah guru berlebih. Dalam hal ini ada beberapa mata pelajaran yang jumlah gurunya berlebih, misalnya PPKn dan Bahasa Indonesia,” jelas Tunggal.

Tunggal menambahkan redistribusi akan dilakukan terutama pada guru-guru sertifikasi yang mengajar di sekolah yang kelebihan guru dan sulit memenuhi kuota 24 jam mengajar per pekan. Guru-guru tersebut  kemungkinan harus pindah atau merangkap mengajar di sekolah yang kekurangan guru.

Sementara Kasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Bidang SMP/SMA Disdik, Rohimam mengungkapkan redistribusi guru dilakukan sesuai amanat Permendiknas No 39/2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan. Permendiknas tersebut mengamanatkan dua tahun setelah terbit redistribusi guru harus dilakukan.

“Di Wonogiri redistribusi guru SMP-SMA/SMK saat ini sudah memasuki tahap ketiga. Namun karena dinamika yang terus menerus belum berhasil 100%. Masih ada guru mata pelajaran tertentu yang overload sementara mata pelajaran lain kurang,” ujarnya

Rohimam mencontohkan, untuk SMP, guru PPKn kelebihan 68 orang dari kebutuhan, Bahasa Indonesia kelebihan 29 orang, Fisika kekurangan 29 orang, Matematika kekurangan 21 orang, Bahasa Inggris kurang 29 orang , guru BK kekurangan 79 orang dan mata pelajaran komputer kekurangan 66 guru. Kelebihan jumlah guru kebanyakan terjadi di wilayah perkotaan.

(shs)

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Pendidikan yang Memerdekakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (21/8/2017). Esai ini karya Mohamad Ali, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan pengasuh Perguruan Muhammadiyah Kota Barat, Solo. Alamat e-mail penulis adalah ma122@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO–Memasuki umur 72 tahun kemerdekaan…