Kamis, 21 Juli 2011 20:25 WIB Tak Berkategori Share :

Diinterogasi KPK, tersangka bunuh diri

Kualalumpur [SPFM], Kerasnya perlakuan para penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Malaysia saat menginterogasi koruptor dianggap sebagai salah satu penyebab seorang tersangka bunuh diri. Akibat hal ini, KPK Malaysia diminta untuk menerapkan sistem interogasi lebih manusiawi, dan tidak menyudutkan. Dilansir dari Associated Press, Kamis (21/7) Juli 2011, Teoh Beng Hock, 30, ditemukan tewas pada Juli 2009 di atap koridor gedung KPK Malaysia di negara bagian Selangor. Kematiannya terjadi selang beberapa jam setelah ditanyai perihal penyalahgunaan dana pemerintah oleh bosnya, seorang anggota legislatif. Saat ini bosnya tersebut melenggang bebas karena terbukti tak melakukan tindak korupsi.

Kematian Teoh mengundang banyak kontroversi dan pertanyaan, beberapa bahkan menduga teoh mati dibunuh oleh penyelidik. Nazri Abdul Aziz, seorang menteri kabinet, bersikeras Teoh bunuh diri karena stress berjam-jam diinterogasi dengan keras oleh tiga orang penyelidik. Ketiga orang ini diketahui menyalahi aturan formal interogasi dan melakukan tekanan terhadap Teoh. Saat ini ketiganya tengah dalam pemeriksaan polisi. Namun, Pornthip Rojanasunand, ahli forensik kriminal Malaysia meyakini Teoh dibunuh, terlihat dari bekas cekikan dan penyerangan di tubuhnya.

Hal ini juga dikatakan oleh anggota DPR dari kubu oposisi, Lim Kit Siang. Dia mengatakan ketiga penyidik tersebut harus dikenakan pasal pembunuhan. Awalnya, otopsi atas Teoh menemui jalan buntu. Namun belakangan, dua ahli patologi menyimpulkan Teoh bunuh diri dengan cara melompat dari jendela. Peristiwa ini tidak ayal menjadi masukan bagi KPK Malaysia yang dituntut mengubah sistem interogasinya. Panel investigasi kematian Teoh mengharapkan KPK Malaysia meningkatkan pelatihan prosedur interogasi. Tidak hanya anggota KPK, tuntutan ini juga dialamatkan kepada para aparat Malaysia yang kerap menggunakan kekerasan ketika memeriksa tersangka. [vivanews/lia]

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (05/01/2018). Esai ini karya Ahmad Halim, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Administrasi Jakarta Utara. Alamat e-mail penulis adalah ah181084@gmail.com Solopos.com, SOLO–Pemberlakuan UU No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum (gabungan UU No. 8/2012, UU…