ilustrasi (dok Solopos) ilustrasi (dok Solopos)
Kamis, 21 Juli 2011 10:36 WIB Solo Share :

Dari sarjana pariwisata menjadi pengemis kota ...

ilustrasi (dok Solopos)

Solopos.com–Ini sebuah kisah tentang seorang pengemis yang mengharu biru. Ny Ari namanya. Dia adalah warga asli Blitar, Jawa Timur. Karena suatu sebab yang tak disangka, perempuan setengah baya ini pun memilih berhijrah ke Kota Solo untuk mengadu nasib.

“Setahun sekali saya kadang pulang ke Blitar menjenguk anak perempuan saya. Sekarang, anak saya sudah kelas II SMK favorit di Blitar,” jelasnya mengawali kisahnya kepada Espos, Rabu (20/7/2011).

Sebelum menjadi seorang pengemis seperti saat ini, Ny Ari adalah seorang karyawan reseptionis di sebuah Hotel di Pulau Dewata, Bali pada pertengahan 1990 silam. Dengan ijazah Sarjana Pariwisata, gaji yang diterima Ny Ari kala itu ialah Rp Rp 900.000/ bulan atau tiga kali lipat dari UMK kala itu. “Saya dulu lulus di Unibraw Malang tahun 1994. Setelah itu, kerja dan menikah,” kenangnya.

Namun, roda nasib telah membalik segalanya. Anak tunggal yang kini yatim piatu itu harus menerima nasib malang karena tertabrak mobil hingga ia mengalami cacat di kedua kakinya. Ia pun dilarikan ke RS Cacat Prof Dr Soeharso, Jebres, Solo. Setelah sembuh, ia pun kembali bangkit dan memulai usaha baru. “Namun, saya sudah cerai dengan suami saya. Dan saya harus hidup sendiri di Solo,” katanya.

Ia pun memulai usaha dengan membuka usaha antar jemput anak sekolah. Setahun berjalan, usaha itu pun kandas. “Orangtuanya pindah, akhirnya anaknya juga ikut pindah. Jadi, saya menganggur,” paparnya.

Di tengah upaya kerasnya mencari pekerjaan, nasib malang kembali menimpa ibu muda ini. Untuk kali kedua, Ny Ari kembali tertabrak mobil di daerah Nguter, Sukoharjo. “Kaki kiri saya hampir patah. Saya harus pakai kursi roda untuk berjalan,” paparnya.

Saat itulah, Ny Ari seperti pupus harapannya. Dalam hatinya, bergelayut pikiran gamang akankah ada satu atau dua perusahaan yang menerimya kerja dalam kondisi cacat seperti itu. “Saya saat itu sudah putus asa. Lalu, simbok-simbok itu mengajak saya mengemis di Masjid Agung ini,” jelasnya.

Sejak itulah, Ny Ari resmi menjadi seorang pengemis di Masjid Agung Solo. Karena kakinya cacat, ia pernah dimaki oleh petugas keamanan Pasar Klewer karena dianggap mau mengemis di dalam pasar. “Padahal, saat itu saya mau beli pakaian untuk anak saya di rumah,” kenangnya terharu.

Kini, Ny Ari selalu teringat anak semata wayangnya di rumah yang tengah mengejar matahari. Kelak jika sudah lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan, kata Ny Ari, ia berjanji akan pulang dan memulai hidup baru yang lebih baik. “Saya tak pernah bilang kepada anak saya bahwa saya mengemis di Solo. Saya sangat malu menjadi pengemis,” paparnya dengan mata berkaca-kaca.

(Aries Susanto)

lowongan kerja
lowongan kerja PT.INDUKTORINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Belajar dari Drama Korea, Triple C-ABG Ekonomi Kreatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (5/7/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, dosen Kewirausahaan dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di STIE Surakarta sekaligus mahasiswa Program Doktor Pengembangan Bisnis Kecil/UMKM di Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah…