Sejumlah wisatawan dari Benua Eropa yang juga pehobi lokomotif uap tua, melihat sekaligus mendokumentasikan sejumlah lokomotif di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu. (Farid Syafrodhi)
Kamis, 21 Juli 2011 11:14 WIB Karanganyar Share :

Bernostalgia dengan loko tua...

Sejumlah wisatawan dari Benua Eropa yang juga pehobi lokomotif uap tua, melihat sekaligus mendokumentasikan sejumlah lokomotif di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu. (Farid Syafrodhi)

Solopos.com--Terence Hall, salah satu warga Inggris, berlari-lari kecil mengikuti sebuah lokomotif tua di sekitar kompleks Pabrik Gula (PG) Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Rabu (20/7/2011) siang. Tangan kanannya memegang sebuah kamera mungil yang siap untuk mengabadikan kereta yang bergerak perlahan itu.

Belasan teman Tery, sapaan akrab pria bule itu, juga melakukan hal yang sama. Mereka mengambil foto maupun video, menggunakan perangkat kamera digital yang mereka bawa. Meski sudah tua, namun lokomotif yang diberi nama Tasikamdu (TM) VI itu masih bisa berjalan. Apalagi, kereta uap tersebut juga masih kuat menarik puluhan lori kecil bermuatan tebu, dari dekat jalan raya menuju ke kompleks PG Tasikmadu.

“Kami berkunjung ke beberapa lokasi untuk melihat lokomotif tua yang bisa dikatakan warisan peninggalan orang jaman dahulu. Beberapa di antaranya masih terawat dengan baik. Sebelumnya kami membaca di sebuah majalah di Inggris tentang kereta tua di Indonesia. Karena itu, kami serombongan melakukan perjalanan ke sini untuk melihatnya secara langsung,” jelas Tery saat ditemui wartawan di Agrowisata Sondokoro, Rabu.

Siang itu, ada sebanyak 20 orang pecinta lokomotif uap dari belahan negara di Benua Eropa, berkunjung ke Agrowisata Sondokoro. Kunjungan mereka ke sana yakni untuk mendokumentasikan sekaligus bernostalgia dengan lokomotif uap kuno yang hingga kini masih berada di Sondokoro.

Manajer Agrowisata Sondokoro, Megantara mengatakan, ada sembilan unit lokomotif uap yang berada di Sondokoro dan masih dalam keadaan baik. “Semuanya masih dirawat dan bisa jalan,” jelas Megantara.

Lebih lanjut ia menjelaskan, para turis asing itu memang setahun sekali berkunjung ke sana hanya untuk mengetahui kondisi lokomotif uap buatan Eropa. Selain ke Karanganyar, mereka juga mengunjungi beberapa stasiun kereta api yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. “Mereka justru memiliki data yang lebih komplit mengenai lokomotif uap. Bahkan ada juga turis asing yang mengetahui jalur-jalur rel pada jaman dahulu yang kini sudah tidak ada,” ungkapnya.

(Farid Syafrodhi)

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…