Liburan, pusat oleh-oleh di Solo banjir pembeli

PEMBELI MENINGKAT--Pengunjung tengah berbelanja berbagai makanan khas Solo di salah satu toko pusat oleh-oleh di Kalilarangan, Solo, Rabu (29/6). Musim liburan sekolah, pusat oleh-oleh mengalami peningkatan pembeli sekitar 50% dibanding hari biasa. (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)PEMBELI MENINGKAT--Pengunjung tengah berbelanja berbagai makanan khas Solo di salah satu toko pusat oleh-oleh di Kalilarangan, Solo, Rabu (29/6). Musim liburan sekolah, pusat oleh-oleh mengalami peningkatan pembeli sekitar 50% dibanding hari biasa. (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)

Solo (Solopos.com) – Sejumlah toko pusat oleh-oleh di Kota Solo kebanjiran pembeli menyusul datangnya masa liburan sekolah. Pertumbuhan penjualan pun mencapai hampir 50%.

OLEH-OLEH KHAS--Pengunjung tengah berbelanja berbagai makanan khas Solo di salah satu toko pusat oleh-oleh di Kalilarangan, Solo, Rabu (29/6/2011). Musim liburan sekolah, pusat oleh-oleh mengalami peningkatan pembeli sekitar 50% dibanding hari biasa. (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)

Meski meningkat, nyatanya, mereka mengakui penjualan selama masa libur sekolah masih kalah jauh dibanding masa Lebaran. Supervisor pengiriman barang dan pembayaran Toko Era Jaya, Vita Sari, mengatakan lonjakan penjualan terjadi sekitar dua pekan ini, setelah memasuki masa libur sekolah. Menurut Vita, sebagian besar pembeli berasal dari rombongan anak-anak sekolah yang berwisata dan keluarga yang menghabiskan waktu libur di Solo.

“Kalau musim liburan begini, penjualan bisa naik lebih dari 45%. Kebanyakan dari rombongan pariwisata. Satu rombongan bisa belanja sampai Rp 7 juta sekali datang,” terang Vita, saat ditemui Espos, di tokonya, Rabu (29/6/2011). Untuk mengimbangi kenaikan permintaan sebagai akibat masa libur ini, Vita mengaku sengaja menambah stok lebih dari dua kali lipat untuk produk-produk yang laris. Di antara produk laris itu antara lain intip, abon, serundeng, dan brem Solo. Harga produk favorit ini cukup terjangkau, dengan kisaran Rp 6.000/buah sampai lebih dari Rp 20.000/buah. “Kalau yang khas Solo, seperti intip, abon dan serundeng ini sampai kurang-kurang. Untungnya abon dan serundeng kami produksi sendiri,” ujar dia.

Selain imbas libur sekolah, dia mengatakan kenaikan penjualan juga dipicu banyaknya agenda wisata di Kota Solo, seperti Solo Batik Carnival (SBC). Tak hanya itu, pesanan dari pedagang luar kota juga cukup banyak. Para pedagang luar kota ini biasanya memesan produk oleh-oleh dalam jumlah besar. Produk ini bakal dijual kembali di kota masing-masing.

Peningkatan penjualan selama libur sekolah juga diakui Kepala Toko Oleh-oleh Bp Mesran, Sarwiningsih. Namun berbeda, dia menilai, lonjakan penjualan selama masa liburan tidak terlalu besar. “Saya tidak bisa sebutkan naik berapa persen, yang pasti ini tidak terlalu besar. Tapi soal stok saya harus tambah karena yang tersedia sering kurang,” ujar dia.

Lebih jauh, Sarwiningsing melihat potensi peningkatan penjualan selama masa libur sekolah sebenarnya bisa lebih besar. Saat ini, pembeli di tokonya lebih didominasi keluarga yang datang dengan kendaraan pribadi atau mobil. Sedangkan rombongan yang menggunakan bus besar terbilang jarang.

Menurut dia, hal itu disebabkan tempat parkir di lokasi sekitar toko, yakni kawasan Kali Larangan, tidak representatif untuk tempat parkir. Sarwiningsih berharap Pemerintah Kota (Pemkot) memberikan solusi atas minimnya ruang parkir tersebut. “Daerah sini susah parkirnya, jadi kalau mau belanja oleh-oleh ke sini harus pintar-pintar cari lokasi parkir. Kalau rombongan besar akan sulit masuk sini,” pungkas dia.

tsa

Editor: | dalam: Ekonomi |
Menarik Juga »