SELALU RAMAI -- Suasana di Warung Tengkleng Bu Edi yang terletak tepat di gapura Pasar Klewer, Solo, yang tak pernah sepi dari pembeli. (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)
Sabtu, 11 Juni 2011 07:12 WIB Kuliner Share :

Tengkleng, santapan tak sopan yang nikmat

Kalau Anda menikmati tengkleng, jangan harap segala sopan santun atau etiket bersantap secara formal bisa sepenuhnya diterapkan. Anda harus rela “tidak sopan” saat menyantapnya karena justru itulah yang menjadi penambah kenikmatannya.

KHAS -- Hidangan tengkleng yang disajikan dengan gaya tradisional menggunakan alas daun pisang. (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)

Bagi Anda yang bukan warga kawasan Soloraya, asal tahu saja, tengkleng adalah semacam gulai kambing dengan bahan baku utama tulang belulang kambing, tetelan daging serta jeroan. Aroma aneka rempah yang tajam juga menjadi ciri khasnya. Dengan komponen seperti itu, Anda harus mengerahkan tangan telanjang untuk memegangi tulang-belulang yang tersaji agar bisa menggerogoti daging atau menyedot sumsum yang ada.

SELALU RAMAI -- Suasana di Warung Tengkleng Bu Edi yang terletak tepat di gapura Pasar Klewer, Solo, yang tak pernah sepi dari pembeli. (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)

Salah satu warung tengkleng yang cukup punya nama adalah wartung milik Bu Sarno yang berada di kawasan Sonolayu, Boyolali. Warung ini masih menerapkan cara masak tradisional yaitu menggunakan anglo dengan arang. Di sekitar Kota Solo, warung tengkleng bertebaran. Sebut saja Warung Sate Kambing Mbok Galak, di kawasan Komplang, Banyuanyar. Tempat lain yang terkenal adalah Warung Mbak Diah di Tanjunganom, Grogol arah Solo Baru. Kemudian Warung Mas Di di Kartasura juga cukup terkenal. Masing-masing masakan mempunyai cita rasa berlainan. Misalnya, ada penjual yang membubuhkan campuran santan pada tengkleng.

Hidangan ini rata-rata bisa dinikmati dengan harga per porsi antara Rp 5.000 hingga Rp 20.000. Menurut pemilik Warung Tengkleng Pasar Klewer, Ediyem, walau sebagian penjual tengkleng menambahkan daging dan jeroan, dirinya tetap mempertahankan ciri khas, lebih dominan kepala kambing dan tulang belulang “Sama-sama menyajikan tengkleng tapi cita rasa tulang bisa jadi berlainan. Tergantung bumbunya yang membaur di kuahnya,” ujarnya.

Penasaran? Silakan segera datangi warung tengkleng di Soloraya dan segeralah ber-freestyle saat menikmatinya.

Dina Ananti Sawitri Setyani

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…