Ketemu piramida Suku Maya di Mojolaban

MENARIK PERHATIAN -- Pengunjung tengan melihat-lihat bangunan yang ada di kompleks Pura Sashasra Adi. Meski menyandang nama "pura," tempat ini terbuka setiap saat bagi siapa saja. (Espos/Adib Muttaqin Asfar)MENARIK PERHATIAN -- Pengunjung tengan melihat-lihat bangunan yang ada di kompleks Pura Sashasra Adi. Meski menyandang nama "pura," tempat ini terbuka setiap saat bagi siapa saja. (Espos/Adib Muttaqin Asfar)

Kalau Anda mencari piramida, pikiran mungkin tertuju ke piramida di Mesir atau piramida peninggalan Suku Maya di benua Amerika. Nah, siapa sangka kalau kita bisa menemukan piramida serupa di salah satu sudut Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, tepatnya di di Sonosewu, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban.

PIRAMIDA SUKU MAYA -- Miniatur piramida Cichen Itza ini bisa menunjukkan efek serupa seperti aslinya saat matahari mencapai posisi tepat di khatulistiwa (ekuinoks). (Espos/Adib Muttaqin Asfar)

Di sebuah tempat bernama Sashasra Adhi Pura, bukan hanya piramida yang bisa kita jumpai, namun juga 50 buah miniatur bangunan kuno yang aslinya tersebar di seluruh dunia. Di bagian depan ada miniatur Candi Borobudur. Sedangkan di bagian dalam berdiri piramida Chicen Itza yang aslinya ada di Yucatan, Meksiko. Ada pula miniatur Stonehenge dari Inggris, kuil Mnajdra di Pulau Malta, Piramida Agung Mesir, Serpent Mound di Ohio, AS, lukisan batu dari Tassisi Najjer, Axum Eturgin di Afrika dan puluhan bangunan lainnya.

STONEHENGE -- Miniatur bangunan batu asal Inggris, Stonehenge, juga bisa dijumpai di Pura Sashasra Adi, Moholaban, Sukoharjo. (Espos/Adib Muttaqin Asfar)

Meskipun jauh lebih kecil daripada aslinya, ukuran bangunan-bangunan dibuat proporsional. Selain itu, posisi dan arah masing-masing miniatur dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menunjukkan arah matahari saat titik balik utara, titik balik selatan dan dua kali ekuinoks atau posisi saat matahari berada tepat di khatulistiwa. Sehingga, walaupun koordinatnya berbeda dengan bangunan aslinya, miniatur bangunan ini bisa menunjukkan fungsi yang sama sebagai penunjuk posisi matahari.

50 bangunan yang miniaturnya ada di pura ini tidak hanya menunjukkan posisi matahari dengan tepat, melainkan posisi benda angkasa lain seperti bintang dan bulan. Piramida Khufu atau Piramida Agung Mesir menunjukkan secara persis arah kutub utara sumbu rotasi bumi. Selain itu, di dalam piramida ada lorong atau celah panjang yang mengarah tepat ke empat rasi bintang yaitu Orion, Sirius, Alpha Draconic dan Beta Ursa Minor.

Miniatur-miniatur ini ditempatkan di lahan terbuka di kompleks pura dan bisa dilihat oleh siapa pun. Material yang dipakai juga mirip dengan aslinya. Untuk piramida, Stonehenge atau candi, miniatur dibuat dengan bahan dasar batu. Sedangkan yang berupa gundukan tanah seperti Serpent Mound, bentuknya juga hanya berupa gundukan tanah yang dibentuk mirip dengan aslinya. Lain halnya dengan lukisan raksasa di lahan pasir Nazca, Peru. Miniaturnya dibuat dari campuran semen yang ditutup dengan pasir. “Sayang, pasirnya banyak yang terlepas karena pengaruh panas dan hujan,” ujar Kjartan Johansen, pengelola Sashasra Adhi.

MENARIK PERHATIAN -- Pengunjung tengah melihat-lihat bangunan yang ada di kompleks Pura Sashasra Adi. Meski menyandang nama pura, tempat ini terbuka setiap saat bagi siapa saja. (Espos/Adib Muttaqin Asfar)

“Ini seperti kalkulator raksasa bagi orang-orang zaman dulu,” kata Kjartan. ”Berbeda dengan sekarang ini, kita selalu dimanjakan teknologi. Tapi bagi orang dulu, mereka mengandalkan matahari sebagai penunjuk.”

Sudah lama Kjartan tinggal di Indonesia. Pria asal Norwegia ini mulai menginjakkan kaki di Pulau Jawa pada 1992. Sama dengan kebanyakan orang Barat lainnya, dia datang ke negara ini untuk berwisata.

Siapa sangka dia akhirnya memutuskan tinggal di Solo hingga hari ini. Adalah Hardjanta Pradjapangarsa, seorang guru spiritual sekaligus pendiri Sahasra Adhi Pura yang membuatnya betah di Solo. Bersama Hardjanta, Kjartan belajar banyak tentang spiritualisme Hindu. Dia memutuskan meninggalkan semuanya, pekerjaan, Tanah Air dan keluarganya. “Di sini, saya sudah menemukan yang saya cari. Jadi sudah tidak ingin ke mana-mana lagi,” ujarnya.

Dia tak sendirian. Ada beberapa warga negara lain yang juga menjalani hal serupa. Istrinya, Cleo, adalah warga Kanada. Mereka bertemu di Baluwarti. Waktu itu, pura belum dibangun dan masih berkumpul di Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo.

Pura itu baru dibangun pada 1998. Selepas meninggalnya Hardjanta, Kjartan meneruskan tugas pembangunan pura yang kini berdiri di Solosewu, Wirun, Mojolaban. Meski berbentuk pura, menurutnya, tempat itu adalah tempat universal yang terbuka bagi siapa saja. Universalitas itu ditunjukkan dengan miniatur-miniatur bangunan purba dari berbagai penjuru dunia. Bangunan-bangunan purba itu banyak yang dibangun oleh bangsa yang bukan penganut Hindu. “Sebenarnya dasar semua kepercayaan itu sama. Jadi kami menghormati dengan menempatkan semuanya di sini,” lanjut Kjartan.

Sebagai ahli konstruksi, dia ikut merancang desain pura yang kini diisi 50 miniatur bangunan purba. Perhitungannya cukup rumit, yaitu menempatkan miniatur bangunan agar tepat menunjukkan arah matahari saat titik balik utara, titik balik selatan ekuinoks. Pembangunan ini belum rampung karena rencananya bakal dibangun total 1.000 miniatur bangunan purba.

Maka, tidak heran pura ini menjadi langganan kunjungan siswa dari berbagai sekolah. Umumnya mereka tertarik untuk melihat bangunan-bangunan kuno di seluruh dunia di satu lokasi. Selain melihat bentuknya, siapa pun akan sadar tingginya peradaban masa lalu dan tidak semuanya bisa terjangkau oleh orang modern.

Oleh: Adib Muttaqin Asfar

Editor: | dalam: Travel |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »