Hmmmm, mari nikmati aneka sate

VARIASI SATE -- Di tempat-tempat wedangan sering dijumpai aneka sate siap santap seperti sate usus, sate kikil, sate bakso atau sate galantin (daging sapi cincang). (Espos/Fetty Permatasari)VARIASI SATE -- Di tempat-tempat wedangan sering dijumpai aneka sate siap santap seperti sate usus, sate kikil, sate bakso atau sate galantin (daging sapi cincang). (Espos/Fetty Permatasari)

Orang Indonesia mana yang tak kenal sate. Makanan terbuat dari daging yang dipotong kecil-kecil lalu ditusuk dengan tusukan sate yang biasanya dibuat dari bambu, kemudian dibakar menggunakan bara arang kayu disajikan dengan berbagai macam bumbu.

BAKAR SATE -- Seorang penjual sate di dekat Stasiun Balapan, Solo, tengah membakar sate ayam. (Espos/Fetty Permatasari)

Sejumlah sumber menyebutkan sate diciptakan oleh pedagang makanan di Jawa sekitar awal abad ke-19, terkait semakin banyaknya pendatang dari Arab ke Indonesia. Hal inilah yang menjadi alasan populernya penggunaan daging kambing dan domba sebagai bahan sate yang disukai oleh warga keturunan Arab. Sate lantas populer di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand.

KULIT DAN URITAN AYAM -- Selain daging ayam, jeroan ayam seperti usus atau uritan alias bakal telur yang masih ada di dalam tubuh ayam juga biasa disajikan sebagai sate. (Espos/Fetty Permatasari)

Dalam perkembangannya, sate tak hanya identik dengan daging kambing atau domba. Segala macam bahan yang disajikan dengan cara ditusuk kemudian disebut sate. Embel-embel nama di belakang kata sate disesuaikan bahan yang digunakan sebagai sate. Tapi, di antara sekian bahan, ayam menjadi bahan yang paling populer. Bicara soal sate ayam, dua label sate ayam yang tersohor adalah sate Madura dan sate Ponorogo.

Tak sulit menemukan dua jenis sate ayam itu di Solo. Untuk sate Madura, sate dari warung kaki lima Cak Gepeng di Jl Kol Sutarto Jebres dekat Apotek Kimia Farma bolehlah jadi referensi. Sate Madura racikan dari warung yang mulai buka sore hari ini memang khas. Potongan dagingnya besar-besar, tekstur dagingnya empuk dan rasa bumbu kacangnya mantap. Seporsi sate yang berisi sepuluh tusuk dibanderol Rp 9.000. “Mengapa dagingnya empuk, karena ayam yang kami gunakan selalu fresh,” ujar pemilik warung sate Cak Gepeng, Siti Fairuz, 29.

Kalau siang hari, warung sate Bu Nur di RT 3/RW XI Kampung Baru atau di dekat pintu belakang Balaikota Solo layak dijajal. Apalagi di sana ada dua pilihan sate ayam. Sate yang hanya terbuat dari daging ayam dan sate yang dicampur dengan putih telur ayam. Seporsinya yang sudah dilengkapi lontong dibanderol Rp 8.500. Tapi, sate ayam yang dijual di sejumlah pasar tradisional juga tak kalah enak. Seperti di dekat pintu utama Pasar Gede yang dijual oleh Tuminem, 56. Meski harganya lebih murah karena per tusuknya hanya Rp 800, rasa daging dan sambalnya memang nyusss.

PENAMBAH VITALITAS -- Sate kuda banyak dicari karena konon bisa menambah vitalitas dan menjaga kesehatan. (Espos/Fetty Permatasari)

Nah, kalau sate Ponorogo yang populer di Kota Solo adalah warung sate Ponorogo Pak Mangun dekat Stasiun Balapan. Kondisi warungnya kurang representatif. Hanya bisa menampung maksimal sekitar 15 orang. Tapi, warung tersebut nyaris tak pernah sepi pengunjung. Maklum, pendirinya, Pak Mangun mempertahankan resep asli sate sejak membuka warungnya itu 40 tahun silam. Salah satu karyawan, Supriyadi, 30, mengatakan jenis satenya beragam. Sate daging ayam saja ada dua pilihan, dari bagian paha dan dada. Sementara ada pula sate dari hati ayam serta kulit. “Sambal sate Ponorogo juga khas, terasa lebih segar. Khusus untuk jeroan maupun kulit, biar lemaknya luruh, sebelum dibakar direbus terlebih dahulu,” ungkapnya.

Soal sambal inilah yang biasanya jadi penanda pembedaan sate ayam Madura dan Ponorogo. Sambal kacang sate Ponorogo memang lebih cair dan berwarna lebih terang. Ini karena proses pembuatannya tak ubahnya sambal pecel. Campuran kacang, cabai dan gula merah yang sudah ditumbuk langsung disiram air saja. Sementara, sambal kacang ala Madura bisanya melalui proses lebih lanjut. Campuran bahan tersebut direbus hingga lebih dari lima jam. Jangan heran bila sambal kacang sate Madura lebih kental dan warnanya lebih gelap. Itu kalau sate ayam.

VARIASI SATE -- Di tempat-tempat wedangan sering dijumpai aneka sate siap santap seperti sate usus, sate kikil, sate bakso atau sate galantin (daging sapi cincang). (Espos/Fetty Permatasari)

Di Kota Solo, ada sate yang khas yang sudah familier. Namanya sate kere. Disebut sate kere lantaran sate ini berbahan dasar tempe gembus, ampas proses pembuatan tahu. Bicara sate kere, warung sate kere dan jeroan sapi Yu Rebi yang berada di Penumping dan belakang Sriwedari adalah jawaranya. Mau sate yang lebih beragam? Datanglah ke wedangan. Di sana beragam sate sebutlah seperti sate usus, jeroan sapi, koyor, bakso, sosis, udang, kikil, kerang sampai sate keong. Di Galabo, aneka makanan itu juga disediakan Kedai Sruput Sendok. Berbagai jenis sate tersebut dibanderol mulai dari Rp 1.500 sampai Rp 2.000.

Oleh: Fetty Permatasari

Editor: | dalam: Kuliner |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »