Jumat, 1 April 2011 06:19 WIB Solo Share :

Direksi TSTJ sterilisasi danau dari pemancing

Solo (Solopos.com)--Jajaran Direksi Perusda Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo mulai mensterilisasi lingkungan taman dari para pengunjung tak bertiket.

Di sisi lain Jumat (1/4/2011) pagi ini Direksi bersama petugas keamanan internal berencana menyisir bantaran Sungai Bengawan Solo. Langkah itu untuk mencari lokasi-lokasi yang selama ini dijadikan tempat berlaku mesum pasangan tidak jelas. Direktur Operasional Perusda TSTJ, Windu Winarso mengatakan petugas akan langsung membuka bantaran dari tanaman rimbun.

“Setelah itu jangan ada lagi perilaku mesum tak senonoh di TSTJ,” tegasnya ditemui wartawan Kamis (31/3/2011).

Ditanya mengenai sanksi yang bisa diberikan kepada pelanggar norma perilaku di TSTJ, Windu menilai belum perlu. Dengan pendekatan pengawasan melekat kepada pasangan yang disinyalir akan berbuat mesum diharapkan cukup mencegah perilaku miring tersebut.

“Saat ini kami belum berpikir sanksi. Dengan pengawasan ketat dan kesadaran seluruh pemangku kepentingan termasuk pedagang kami harap cukup efektif mencegah perilaku mesum di sini. Jurug harus berkembang menjadi kawasan wisata edukasi dan alam bagi keluarga,” paparnya.

Sementara mengenai pengunjung tak bertiket menurut Windu mulai disterilisasi. Sejak beberapa hari terakhir petugas keamanan sudah meminta para pengunjung ilegal tidak mengulangi aksi mereka.
Petugas juga menjaga ketat salah satu titik di sisi timur taman yang biasa jadi jalur masuk pengunjung tak bertiket yang didominasi para pemancing.

“Mereka sudah kami beri penjelasan, sejauh ini tidak ada lagi pemancing yang masuk tanpa tiket. Kami bisa fokus bersihkan danau dari sampah yang menumpuk cukup banyak,” ungkap Komandan Lapangan Keamanan TSTJ, Djoko Saksono.

Sedangkan salah seorang pemancing yang biasa masuk tanpa tiket ke TSTJ, Yanto, asal Jebres, Solo merespons miring kebijakan Direksi Perusda. Dia menolak bergabung dengan komunitas pemancing yang akan dibentuk pengelola TSTJ. Sebab menurutnya dia memancing sebatas hobi pribadi tidak bergabung dengan komunitas tertentu.

“Masa untuk mancing saja harus bayar Rp 6.000 tiap kali masuk. Padahal yang di dapat tidak seberapa,” akunya.

kur

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…