Rabu, 30 Maret 2011 22:06 WIB Boyolali Share :

Kelumpuhan Warga Ampel diduga karena faktor genetis

Boyolali (Solopos.com)–Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali menyatakan puluhan warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Ampel, Boyolali, yang  lumpuh itu bukan karena penyakit menular. Namun diduga karena faktor genetik atau keturunan.

“Dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan, kelumpuhan warga itu bukan karena penyakit menular. Tetapi, diduga karena penyakit genetik, akibat pernikahan dalam satu trah keluarga,” ujar Kepala Dinkes Boyolali dr Yulianto Prabowo MKes kepada wartawan seusai melakukan pemeriksaan terhadap para warga Sidomulyo, Ampel, Rabu (30/3/2011).

Dalam pemeriksaan itu juga melibatkan sejumlah dokter dari RSU Pandanarang Boyolali, yakni dr Amaludin Muzamil SpS dan dr Suwito SpA. Selain itu, juga dokter Puskesmas Ampel I dan bidan desa setempat.

Yulianto menambahkan dugaan penyakit genetik itu diperkuat adanya keterangan dari pihak keluarga, jika penyakit yang dialami warga itu sudah terjadi sekitar empat generasi sebelumnya. Sehingga dengan kondisi itu, jelas Yulianto, ia meminta masyarakat untuk tidak khawatir. Penyakit itu, jelas Yulianto, tidak menular dan bukan penyakit polio.

Sebagai langkah-langkah dalam mengatasi munculnya kasus serupa ke depan, Yulianto menegaskan bisa melakukan upaya untuk memutus rantai genetik itu, dengan cara tidak melakukan pernikahan dengan sesama trah keluarga.

“Dari pemeriksaan itu juga diketahui, kalau masih ada hubungan darah dari pernikahan itu, sehingga memunculkan kasus kelumpuhan anak atau cucu itu sendiri,” papar dia.
Yulianto menambahkan untuk pembiayaan perawatan, pihaknya meminta pihak keluarga bisa memanfaatkan kartu Jamkesmas untuk pemeriksaan di rumah sakit atau Puskesmas.

“Jika memang tidak ada Jamkesmas, Kades bisa mengeluarkan surat keterangan tidak mampu (SKTM) untuk memeroleh Jamkesda,” tandas dia.

Sementara, dokter spesialis syaraf RSU Pandanarang Boyolali dr Amaludin Muzamil SpS mengatakan dari pemeriksaan yang dilakukan kelumpuhan itu terjadi karena adanya gangguan di otak, kemudian menjalar menjadi atrophi atau melemah otot-otot di sejumlah anggota gerak tubuh, seperti kaki dan tangan, sehingga menjadi melemah.

“Meski melemah, tetapi tidak sampai titik nol, namun masih ada refleks meski lemah,” ujar Amaludin.

Ditambahkan Amaludin, dalam penanganan para korban lumpuh itu bisa melalui berbagai upaya, termasuk terapi rehabilitasi medik.

fid

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…