News
Rabu, 30 Maret 2011 - 14:57 WIB

8 Industri pencemar lingkungan siap diseret ke pengadilan

Redaksi Solopos.com  /  Tutut Indrawati  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Jakarta (Solopos.com)–Sebanyak delapan industri di Jawa Timur akan diseret ke pengadilan karena diduga melakukan pencemaran lingkungan. Pemerintah mengklaim, perusahaan pencemar lingkungan jumlahnya terus turun dari tahun ke tahun.

“Di Jawa Timur ada beberapa perusahaan, ada berapa belas ini sudah kita pulbaket (Pengumpulan bahan keterangan dan data) dan rencana ada 8 yang akan kita ajukan ke pengadilan (dalam waktu dekat),” kata Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta di Istana Negara, Rabu (30/3/2011).

Advertisement

Hatta menjelaskan, salah satu industri yang akan diseret ke pengadilan (di Jawa Timur) adalah indastri pengalengan ikan. Ia menegaskan bagi industri atau perusahaan sudah dua kali masuk daftar hitam dan pulbaket-nya lengkap maka diajukan ke meja hijau.

Dikatakannya pemerintah tak akan pandang bulu bagi industri perusak lingkungan, baik dalam negeri maupun asing. Ia mencontohkan seperti Chevron saat ini sudah masuk daftar merah.

“Sudah sebelumnya kita bina, yang merah kita bina jangan sampai hitam, itu prosesnya. Tetapi dia (8 industri) tetap saja, sudah kita ke pengadilan. Nanti kalau tidak anu, orang akan melawan terus,” katanya.

Advertisement

Hatta mengaku masih mengincar perusahaan atau industri lainnya di luar Jawa Timur yang membandel dalam hal pencemaran lingkungan. Saat ini masih ada banyak industri yang sudah masuk daftar merah (satu tingkat sebelum hitam). Ada juga yang sudah masuk ke dalam daftar hitam, namun karena baru sekali maka biasanya proses pengadilan akan ditempuh jika sudah dua kali.

Menurutnya saat ini perkembangan perusahaan masuk yang daftar hitam mengalami penurunan secara progresif. Tahun ini saja kata dia, hanya tersisa hampir 30% saja. Pengawasan terhadap perusahaan akan terus ditingkatkan, termasuk bekerjasama dengan daerah terutama untuk mengawasi  perusahaan atau industri yang diluar daftar hitam dan merah.

“Kita berupaya mengurangi beban pencemaran sampai 50% kalau bisa begitu target kita soalnya air kita kualitasnya sudah jelek. Kita airnya ada tapi kualitasnya jelek tidak bisa diapa-apakan,” katanya.

Advertisement

(dtc/tiw)

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif