google.image
Selasa, 29 Maret 2011 19:54 WIB Internasional Share :

Obama
Kami berhasil hentikan gerakan maut kekuatan Khadafi

google.image

Washington (Solopos.com) — Serangan militer pasukan sekutu ke Libya belakangan mendapat kritikan. Barack Obama sebagai presiden AS, salah satu negara yang tergabung dalam pasukan sekutu, menyatakan keberhasilannya menghentikan gerakan maut kekuatan pemimpin Libya Muammar Khadafi.

“Saya bisa laporkan bahwa kami telah berhasil menghentikan gerakan maut dari kekuatan Khadafi,” kata Obama dalam pidato kenegaraannya melalui Libya di National Defense University, Washington DC, AS, Senin (28/3/2011). Salinan pidato kenegaraan Obama itu dikirimkan Kedubes AS di Jakarta, Selasa (29/3/2011).

Obama menuturkan, selama lebih dari empat dekade, rakyat Libya telah dipimpin oleh seorang tiran yang telah merampas kebebasan rakyatnya dan mengeksploitasi kekayaan rakyat. Tiran, yang dimaksud adalah Khadafi, disebutnya telah membunuh orang-orang yang menentang baik di dalam maupun di luar Libya, dan meneror orang-orang yang tidak bersalah di seluruh dunia –termasuk warga-warga Amerika yang telah dibunuh oleh agen-agen Libya.

Bulan lalu, cengkeraman rasa takut yang dimiliki Khadafi atas rakyatnya mulai memudar seiring munculnya harapan kebebasan. Di kota-kota besar dan kecil di seluruh Libya, rakyat turun ke jalan untuk menuntut hak-hak asasi manusia yang mendasar. Dengan satu suara para warga Libya menyatakan, ‘Untuk pertama kalinya kita memiliki harapan bahwa mimpi buruk selama 40 tahun yang kita alami sebentar lagi akan berakhir’.

Dihadapkan dengan gerakan oposisi ini, Khadafi mulai menyerang rakyatnya sendiri. Sebagai presiden, kekhawatiran pertama Obama adalah terkait keselamatan para warga AS di Libya. Karena itu, pemerintah AS segera mengungsikan seluruh staf Kedutaan Besar beserta semua warga AS di Libya.

“Dalam jangka waktu beberapa hari saja, kami segera melakukan langkah-langkah untuk merespons agresi oleh Khadafi ini. Kami telah membekukan aset milik rezim Khadafi bernilai lebih dari US$ 33 miliar,” terangnya.

Bersama dengan negara-negara lainnya di Dewan Keamanan PBB, AS memperluas sanksi-sanksi yang telah ada, mengadakan embargo senjata, dan membuka jalan agar Khadafi dan orang-orang sekitarnya dapat mempertanggungjawabkan kejahatan-kejahatan mereka. “Saya telah menyatakan dengan jelas bahwa Khadafi telah kehilangan kepercayaan dari rakyatnya dan legitimasinya untuk memimpin, dan saya telah menyatakan bahwa ia harus mundur dari kekuasaannya,” imbuhnya.

Walaupun dengan adanya kecaman dari seluruh dunia, Khadafi tetap memilih meningkatkan serangan-serangannya serta meluncurkan kampanye militer terhadap rakyat Libya. Rakyat-rakyat yang tidak bersalah menjadi target pembunuhan. Rumah-rumah sakit dan mobil-mobil ambulans pun telah diserang. Tidak hanya itu, lanjut Obama, para wartawan ditangkap, dilecehkan secara seksual dan kemudian dibunuh.

“Persediaan-persediaan bahan makanan dan bahan bakar di tahan. Persediaan air untuk ratusan ribu warga di kota Misrata dihentikan. Kota-kota besar dan kecil ditembaki dengan meriam, masjid-masjid dihancurkan, dan gedung-gedung apartemen diratakan menjadi puing-puing,” sambungnya.

Pesawat-pesawat jet militer dan helikopter-helikopter bersenjata digunakan pula oleh Khadafi untuk menyerang orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk membela diri dari serangan udara. Dengan adanya tindakan-tindakan brutal dan represif tersebut serta mulai munculnya sebuah krisis kemanusiaan, Obama lantas memerintahkan pengiriman kapal-kapal perang ke Laut Mediterania. Para sekutu Eropa juga menyatakan kesediaannya untuk menggunakan sumber-sumber daya mereka demi menghentikan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.

“Kelompok Oposisi Libya dan Liga Arab meminta masyarakat dunia untuk menyelamatkan rakyat Libya. Lewat perintah dari saya, Amerika memimpin sebuah usaha bersama dengan para sekutu kita di Dewan Keamanan PBB untuk menghasilkan sebuah esolusi bersejarah yang memberlakukan sebuah zona larangan terbang demi menghentikan serangan-serangan udara Rezim Khadafi, serta untuk mengsahkan berbagai tindakan yang diperlukan demi melindungi rakyat Libya,” ucap Obama.

Sepuluh hari yang lalu, setelah pasukan sekutu mencoba untuk menghentikan aksi-aksi kekerasan di Libya dengan berbagai cara-cara damai, masyarakat internasional menawarkan Khadafi sebuah kesempatan terakhir untuk memilih menghentikan kampanye pembunuhannya atau menghadapi konsekuensinya. Namun Khadafi tidak mengindahkannya. Malahan kekuatan militernya terus maju menuju kota Benghazi yang dihuni oleh sekitar 700.000 pria, wanita dan anak-anak yang berusaha untuk menggapai kebebasan dari rasa takut.

Pada saat itu, Amerika Serikat dan dunia dihadapkan pada sebuah pilihan. Khadafi telah menyatakan bahwa ia ‘tidak akan menunjukan belas kasihan’ kepada rakyatnya sendiri. Ia menyamakan mereka dengan tikus-tikus, dan mengancam akan datang dari pintu ke pintu untuk menghukum mereka.

detik.com

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…