Senin, 28 Maret 2011 20:42 WIB News Share :

Perbaikan jalan tol Semarang-Solo belum pasti

Semarang (Solopos.com)–Trans Marga Jateng (TMJ) selaku pelaksana pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, belum bisa memastikan kapan rampungnya pekerjaan perbaikan jalan yang retak dan ambles di ruas jalan tol seksi I Semarang-Ungaran.

“Saya tak bisa targetkan kapan rampungya. Mohon doa restu dari rekan-rekan wartawan semoga cepat selesai,” kata Direktur Utama TMJ Agus Suhariyanto kepada wartawan di sela mendampingi rombongan anggota Komisi D DPRD melakukan peninjauan lapangan di jalan tol, Senin (28/3/2011).

Rombongan yang dipimpin Ketua Komisi D Rukma Setya Budi, ingin mengecek langkah yang telah dilakukan TMJ mengatasi jalan tol seksi I Semarang-Ungaran yang retak dan ambles pada Km 5.500 sampai Km 5.700 di wilayah Susukan, Unguran.

Mengenai langkah yang dilakukan mengatasi jalan yang retak dan ambles , Agus menjelaskan ketinggian jalan tol diturunkan tujuh meter sepanjang 800 meter.

“Meski yang retak dan ambles hanya sepanjang 200 meter. Namun untuk keamanan dan kenyamanan pengguna jalan tol dibuat landai sepanjang 800 meter,” jelasnya.

Dari pantau di lapangan, sejumlah alat berat melakukan pengerukan tanah yang kemudian dimasukan ke dalam truk. Sedang pekerja membuat pondasi beton di sisi sebelah timur.

Kondisi jalan tol Km 5.500 sampai Km 5.700 juga berubah menjadi jalan tanah liat. Padahal pada bulan Februari 2011 lalu kondisi jalan di sana sudah mulus di aspal sehingga bisa dilalui kendaraan dan sepeda.

Menurut staf ahli geoteknik TMJ Allan Rahlan dengan ketinggian jalan tol diturunkan tujuh meter serta dibuat landai kemungkinan akan terjadi longsor lagi sangat kercil.

Dia menambahkan cara tersebut telah dilakukan untuk mengatasi kejadian serupa pada Jalan Tol Cipularang, Jawa Barat.

“Kemungkinan akan terjadi retak lagi 1:1 juta. Kami telah punya pengalamanan mengatasi Jalan Tol Cipularang yang retak sepanjang 10 Km,” tandas Allan.

Namun pakar Geologi Semarang, Darmawan meragukan cara penurunan ketinggian jalan tol tersebut dapat mencegah terjadinya keretakan di kemudian hari.

Pasalnya, ujar Darmawan daerah Pucung atau Km 5.500 sampai Km 5.700 merupakan formasi kerek dengan struktur tanah lempung sehingga mudah bergerak.

“Struktur tanah formasi kerek bila kena air hujan mudah meleleh dan jika musim kemarau retak,” jelas dia.

Kalau tetap dipaksakan, Darmawan menyarankan agar pengeprasan tanah dilakukan sampai wilayah Pucung sejauh sekitar 2 Km dari Susukan.

Ketua Komisi D DPRD Jateng Rukma Setya Budi menyatakan setelah melakukan peninjauan lapangan akan memanggil para pakar, akademisi, TMJ, dan pihak-pihak terkait pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo.

“Untuk mencari penyelesaikan terbaik jalan tol, Kamis depan (31/3) kami akan mengundang para pakar, akademisi, TMJ dan pihak terkait lainnya,” ujar dia.

oto

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…