Minggu, 27 Maret 2011 18:35 WIB Solo Share :

Untuk pedagang, Mider Pasar terus berbenah

Solopos.com–Hujan deras di Pasar Klewer, Minggu (27/3/2011) pagi. Lalu lintas tak sepadat biasanya. Orang-orang yang akan berbelanja pakaian batik dengan harga murah meriah di dhasaran pedagang kaki lima terpaksa harus bersabar sebentar. Mereka memilih berteduh di pinggiran pasar untuk menghindari tetesan air hujan.

Walau menunggu adalah pekerjaan membosankan, termasuk menunggu hujan berhenti, namun tidak di hari itu. Sebab, di depan Pos Keamanan sedang berlangsung pertunjukan musik serta berbagai hiburan lainnya. Ya, musik yang disajikan panitia Jambore Pasar Tradisional (Jampastra) kepada pedagang maupun pembeli adalah musik yang akrab di telinga mereka alias musik dangdut.

Meski mengusung konsep sama namun Mider Pasar di hari itu terasa lebih bersahabat dengan pedagang. Sejak awal acara, pembawa acara maupun panitia terus menjalin komunikasi dengan para pedagang, Tak hanya komunikasi dua arah yang berlangsung dalam Mider Pasar, namun dalam acara kali ini panitia juga menyampaikan sejarah Pasar Klewer.

Di tengah rintik hujan, dua orang pembawa acara terus menyapa para pedagang. Mereka menghampiri satu per satu PKL sambil mempromosikan dagangan mereka. Mulai dari pakaian, jajanan hingga buah-buahan, semua menjadi obyek promosi.

Sama halnya dengan acara Mider Pasar di Pasar Legi, kali ini pun panitia mengundang sejumlah pedagang ke panggung untuk menyampaikan harapan mereka. Salah seorang pedagang, Gito mengatakan apabila pasar hidup maka perekonomian para pedagang secara otomatis akan terangkat.

Bapak dari tujuh orang anak itu  menuturkan meski hanya berjualan makanan kecil di Pasar Klewer, Gito mengaku bisa menyekolahkan semua anaknya hingga ke perguruan tinggi. “Kalau bisa acara seperti ini digelar dua pekan sekali. Karena apabila pasarnya hidup, kami dari pedagang juga ikut terbantu,” ujar Gito.

Ketua Panitia Jampastra, Guntur Wahyu Nugroho menjelaskan setelah melakukan evaluasi, acara Mider Pasar kini menjadi lebih baik lagi. “Banyak kritik yang kami terima kalau Mider Pasar selama ini terlalu banyak acaranya yang tidak serius alias kebanyakan bercanda. Nah mengacu dari kritikan itu kami akhirnya mengintensifkan komunikasi dengan pedagang agar kami tahu apa masalah maupun harapan dari mereka demi kebaikan pasar ke depan,” jelasnya.

(Ayu Prawitasari)

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…