Kamis, 24 Maret 2011 21:30 WIB Klaten Share :

2 Jembatan putus, 5 desa terisolasi

Klaten (Solopos.com)–Hujan deras disertai banjir lahar dingin, Selasa (22/3) sore lalu, menyebabkan dua jembatan di Kecamatan Kemalang, Klaten, putus dan satu lainnya terancam ambrol. Akibatnya terputusnya dua jembatan itu lima desa terisolasi.

Kedua jembatan yang ambrol adalah Jembatan Bendosari di Desa Balerante dan Jembatan Sidosari di Desa Panggang. Sedangkan jembatan yang terancam ambrol terletak di Dukuh Panggang, Desa Panggang.
Jembatan Sidosari merupakan jalur penghubung Desa Balerante dengan Desa Kendalsari, Desa Talun, Desa Bawukan dan Desa Panggang.

Sedangkan Jembatan Bendosari merupakan akses utama warga Dukuh Bendosari, Dukuh Pusung dan Dukuh Tegalweri menuju Jogja.

Camat Kemalang, Suradi, yang meninjau langsung kondisi jembatan itu, Kamis (24/3/2011), mengatakan Jembatan Sidosari yang lebarnya 8 m dengan panjang 25 m itu dibangun 15 m dari dasar sungai. Pembangunan jembatan itu dibiayai dana swadaya masyarakat setempat pada tahun 1999.

Sementara Jembatan Balerante lebarnya 6 m dengan panjang 12 m dibangun 25 m dari dasar sungai. Pembangunan jembatan itu dibiayai dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan tahun 2009-2010.

“Sejak 40-an tahun lalu, baru kali ini hujan lahar dingin bisa merobohkan dua jembatan sekaligus. Padahal kondisi jembatan termasuk kuat,” ujarnya di hadapan wartawan, Kamis.

Dengan ambrolnya kedua jembatan tersebut, roda ekonomi warga terhambat berputar. Untuk itu, dia meminta Pemkab Klaten turun tangan menangani pembangunan kembali ketiga jembatan tersebut. Pembangunan kembali ketiga jembatan itu ditaksir membutuhkan dana Rp 375 juta.

Suradi juga mendesak dilakukannya reboisasi atau penanaman kembali pepohonan di lereng Merapi. Menurut dia, rusaknya ketiga jembatan itu tak bisa dipisahkan dari tandusnya lereng Merapi yang menyebabkan air hujan tak meresap ke tanah. “Ini memang peristiwa alam karena lahan tanah di lereng Merapi tandus akibat erupsi Merapi 2010 lalu,” paparnya.

m98

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…