Rabu, 23 Maret 2011 16:36 WIB Klaten Share :

Pengobatan alternatif di Jogonalan renggut nyawa

Klaten (Solopos.com)–Praktek pengobatan nonmedis di Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, Klaten membuat gempar warga sekitar. Penyebabnya, salah satu pasien, Saimin, 43, warga Dusun Bometen, Desa Ngandong, Kecamatan Gantwarno, Klaten meregang nyawa, Selasa (22/3/2011) siang sesaat setelah dada pasien tersebut disayat pisau untuk menjalani terapi alternatif.

Informasi yang dihimpun Solopos.com Saimin mengeluhkan sakit di sekujur tubuhnya sejak dua pekan lalu hingga dia tak bisa berjalan. Buruh harian lepas itu telah berulangkali memeriksakan sakitnya ke paramedis di Klaten dan Boyolali. Namun, lantaran hasilnya nihil, pihak keluarga lantas berniat memeriksakan Saimin kepada Ratin Purnomo Suranto, 55, salah seorang yang dianggap ‘pintar’ dari Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, Klaten.

“Saimin sebenarnya mau dibawa ke rumah sakit lagi. Tapi, pihak keluarga tiba-tiba membawanya ke dukun,” terang Sugeng Widodo, Ketua RW VIII Desa Ngandong kepada wartawan, Rabu (23/3/2011).

Widodo bersama rombongan keluarga dan kerabat pasien mengaku setengah tak percaya atas pengobatan itu. Pasalnya, mereka melihat secara langsung dada Saimin disayat pisau membujur horisontal sebanyak tiga ruas tanpa pengamanan. “Sebelum dimulai, ada ritual membakar minyak sebanyak 20 jenis botol. Proses pengobatan dilakukan terbuka di rumah dukun serta disaksikan keluarga pasien,” terangnya.

Sayatan pertama, kata Sugeng, berada di bagian dada atas sepanjang 3 cm. Sayatan kedua di bagian atas pusar sepanjang 15 cm, dan sayatan ketiga di bagian bawah pusar sepanjang 10 cm. Pada sayatan ketiga itulah, rombongan keluarga dan kerabat pasien menyaksikan dengan mata telanjangnya sendiri ada sejenis benda bulat sebesar bola kelereng di dalam tubuh Saimin. “Benda itu lantas diambil oleh keluarga pasien. Katanya, pasien diserang mahluk jahat sehingga benda aneh itu harus diangkat,” ceritanya.

Keluarga dan kerabat pasien kian terheran-heran ketika luka sayatan di tubuh Saimin tiba-tiba menghilang tanpa bekas seusai pengobatan. Anehnya lagi, tegas Sugeng, saat menjalani pengobatan, pasien dalam kondisi sadar dan tak mengalami sakit sama sekali. “Setelah benda aneh itu diambil, kami sekeluarga pulang sekitar pukul 13.00 WIB. Namun, tak seberapa lama, Saimin meninggal di rumah,” kisahnya.

Atas peristiwa itu, keluarga pasien langsung melaporkan Ratin ke Polres Klaten. Hingga berita ini ditulis, Ratin masih ditahan di Mapolres Klaten sebagai saksi untuk dimintai keterangan. Pihak Polres belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut atas peristiwa maut itu. “Kami masih melakukan penyidikan dulu,” kata Kapolres Klaten, AKBP Agus Djaka Santosa.

(asa)

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…