Selasa, 22 Maret 2011 11:03 WIB Ekonomi Share :

Impor pangan RI sudah kronis

Jakarta (Solopos.com)–Impor produk-produk pangan Indonesia setiap tahun makin tak terbendung dan sudah pada tahap kronis. Hampir 65% dari semua kebutuhan pangan didalam negeri kini dipenuhi dari impor.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik, Natsir Mansyur, Selasa (22/3/2011).”Impor pangan dan non pangan kita itu sudah kronis, ini sangat memalukan sekali,” kata Natsir.

Natsir menjelaskan di sektor pangan banyak produk yang seharusnya bisa dipenuhi di dalam negeri malah harus impor. Misalnya mulai dari beras, gula, kedelai, jagung, kacang tanah, bawang merah, cabai, ikan, buah-buahan, daging, susu dan lain-lain.

“Semuanya sudah jadi rahasia umum misalnya impor ikan lele dari Vietnam, sungguh keterlaluan,” katanya.

Ia mencontohkan sektor perikanan saat ini justru dibanjiri oleh masuknya ikan-ikan ilegal. Pangkal persoalannya, lanjut Natsir, adalah pengelolaan sektor perikanan yang tak becus, meskipun ia menggarisbawahi peluang pasar di dalam negeri selalu menggiurkan.

“Belum lagi kalau kita bicara masuk pasar tunggal ASEAN (ekonomi ASEAN 2015) kalah kita, kecepatan dalam membaca pasar,” katanya.

Menurut Natsir sektor pangan Indonesia terus dibanjiri produk impor karena pemenuhan suplai dalam negeri terus kurang karena produksi rendah. Faktor inovasi menjadi salah satu penyebab produktivitas selalu rendah. Kedua adalah soal diversifikasi pangan yang saat ini hanya slogan saja.

“Pasar kita yang besar sangat menarik, produktivitas rendah dan tak ada inovasi produk,” ucapnya.

Dikatakannya dalam contoh kasus perdagangan importasi ikan ilegal yang masuk ke pasar di dalam negeri. Menurutnya tak terlepas dari peluang pasar yang sangat besar saat ini, yaitu saat harga ikan tangkap di dalam negeri naik karena nelayan sulit melaut, ikan impor menjadi pilihan.

Ia juga tak habis pikir dengan keinginan pemerintah yang hanya mengejar target swasembada pangan diberbagai bidang seperti swasembada daging, swasembada gula, swasembada garam dan lain-lain. Semunya hanya dipatok berdasarkan target-target normatif tanpa proses merealisasikan target yang konkret dan sistematis. “Intinya produksi pangan kita dikembangkan masih secara konservatif,” katanya.

(dtc/tiw)

lowongan pekerjaan
Bengkel Bubut, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…