Jumat, 18 Maret 2011 04:36 WIB Internasional Share :

Menghemat, listrik dimatikan tiap tiga jam sekali

Dingin, cemas dan selalu diliputi perasaan was-was. Kondisi itulah yang dirasakan salah satu warga Karangpandan, Karanganyar, yang kini tinggal di Tochigi, Jepang, Tri Parwoto. Saat diwawancarai Solopos.com melalui yahoo messenger, Kamis (17/3/2011) malam.

Tri, panggilan akrabnya, mengungkapkan saat ini suhu di daerah yang ia tempati sekitar 2 derajat, sehingga sangat dingin. Bahkan daerah Iwate yang kemarin terkena tsunami, kini bersalju. Terlebih setiap tiga jam sekali, listrik dimatikan secara bergiliran antar daerah. “Saat ini listrik harus dihemat karena pengurangan energi PLTN. Diharapkan kondisinya cepat stabil,” ujarnya.

Perasaan was-was, terangnya, muncul karena setiap hari gempa terus terjadi meski tidak terlalu besar. Terutama di daerah Jepang bagian atas seperti Tochigi, Ibaragi Gunma, Chiba dan Tokyo.

Rasa khawatir juga muncul jika dampak radiasi akibat kebocoran pusat nuklir akan sampai ke Tochigi yang berjarak sekitar 50 km dari pusat nuklir. “Saya cemas jika gempa besar seperti terjadi sebelumnya akan terjadi lagi. Selain itu, kecemasan juga muncul jika tabung nuklir yang paling besar akan meledak karena kemungkinan radiasinya akan mengenai semua daerah Jepang,” ungkapnya.

Rabu kemarin, katanya, semua perusahaan di Tochigi meliburkan karyawannya. Sejak Selasa pukul delapan malam waktu setempat hingga Rabu sore pun, Tochigi ibarat kota mati. Semua warga memilih berada di rumah karena mengkhawatirkan dampak radiasi nuklir. “Tapi mulai Kamis hari ini, aktivitas warga sudah berjalan seperti biasa. Tapi ketika keluar rumah, warga diimbau menggunakan masker,” katanya.

Permasalahan lain yang muncul saat ini, ujarnya, adalah soal stok bahan makanan yang berkurang. Hal ini karena banyak perusahaan makanan yang terhambat operasinya lantaran listrik yang dimatikan setiap tiga jam sekali. Tak terkecuali perusahaan tempat Tri bekerja. Selain itu, kekurangan bahan makanan juga terjadi karena banyak bahan makanan yang dikirimkan untuk korban tsunami.

Akibat bencana tsunami di Jepang, ungkapnya, ada sekitar 300 warga Indonesia yang mengalami luka-luka dan Rabu kemarin telah diminta pulang Ke Indonesia.
Pria kelahiran 1988 ini menceritakan ia di Jepang sejak tiga tahun lalu untuk bekerja di sebuah perusahaan pengelasan. Karena masa kontraknya hampir habis, bulan April mendatang Tri akan pulang ke Indonesia.

ewt

lowongan pekerjaan
Bengkel Bubut, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…