Jumat, 18 Maret 2011 08:49 WIB Internasional Share :

Jepang bakal tunda rencana investasi di luar negeri

Jakarta (Solopos.com) — Bencana gempa, tsunami dan krisis nuklir diyakini akan membuat investor Jepang menunda rencana investasi di luar negeri termasuk ke Indonesia. Namun jangka panjang, Jepang masih membutuhkan negara lain untuk ekspansi usaha.

“Dalam jangka pendek, perusahaan-perusahaan Jepang sepertinya menunda rencana investasi langsung di luar negeri,” jelas ekonom Citi Group, Johanna Chua, Jumat (18/3/2011).

Meski demikian, Chua melihat jangka panjang akan ada peningkatan permintaan perusahaan-perusahaan Jepang untuk mendiversifikasi basis produksi pada negara-negara yang kondisinya stabil.

Dalam enam tahun terakhir, Asia masih masih menjadi sasaran investasi terbesar Jepang dengan investasi langsung di kawasan itu mencapai 27% dari total PMA (Penanaman Modal Asing) Jepang.

Dia juga melihat krisis beruntun yang melanda Jepang tidak akan banyak memengaruhi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia. Berkaca pada peristiwa gempa Kobe tahun 1995, impor Jepang dari Asia hanya melambat sekitar enam bulan sebelum akhirnya rebound. Porsi Jepang dari ekspor Asia melemah signifikan sejak saat itu yakni menjadi 7,3% di 2010 dibanding tahun 1995 sebesar 12,3%.

“Pelemahan impor Jepang sejak gempa Kobe terutama dari industri material dan barang konsumen, sedang impor barang modal terjadi rebound tajam. Kami kira Malaysia, Singapura dan Thailand relatif lebih rentan pada pelemahan ekspor Jepang,” jelasnya.

Chua melihat pelemahan ekspor Jepang dapat ditutupi kuatnya ekspor dari segmen-segmen produk, dimana negara-negara Asia bersaing langsung dengan Jepang. Seperti diketahui, Korea dan Taiwan memiliki struktur ekspor yang hampir sama dengan Jepang.

Ekonom dari BII, Samuel Ringoringo menilai bencana gempa dan tsunami Jepang secara umum akan membuat perekonomian Jepang mengalami ‘technical recession’. Situasi ini mendorong Pemerintah Jepang menggelontorkan dana demi proses restrukturisasi infrastruktur. Proyek ini akan membutuhkan pembiayaan yang bisa diperoleh dari utang maupun investasi domestik.

“Penambahan utang akan meningkatkan jumlah utang pemerintah Jepang. Sementara investasi domestik akan mendorong pembalikan dana Jepang di luar negeri ke titik-titik domestik. Bila pemerintah Jepang menambah utang, yen akan melemah terhadap semua mata uang. Sedang bila investasi domestik digenjot melalui pembalikan dana Jepang yang ada di luar negeri, yen bisa menguat,” urainya.

Jika yen melemah, maka hal itu baik bagi ekspor manufaktur Jepang, hanya saja akan mendorong inflasi domestik. Sebaliknya, bila yen menguat, inflasi bisa dikendalikan tetapi berdampak buruh bagi ekspor manufakturnya. “Dengan yen melemah, maka ekspor manufaktur Jepang bisa lebih kompetitif ketika di saat bersamaan proses restrukturisasi domestik pasca gempa dimulai,” jelasnya.

Mengenai dampak terhadap pergerakan nilai tukar rupiah, Semuel tidak melihat adanya dampak yang signifikan selain tertahannya investasi Jepang di Indonesia. “Pergerakan rupiah sendiri dari sisi global lebih ditentukan oleh langkah moneter Bank Sentral AS dan Eropa. Karena itu, pergerakan JPY terhadap IDR saya anggap sebagai netral ke negatif, dalam artian rupiah bisa tetap stabil atau sedikit melemah bersamaan dengan negatifnya sentiment pasar saham domestik karena efek Jepang,” imbuhnya.

(dtc/try)

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…