Rabu, 16 Maret 2011 14:23 WIB Internasional Share :

Keliling dunia 11 tahun dengan mobil berusia 83 tahun

San Francisco (Solopos.com)--Biasanya para penggila touring hanya sanggup melakukan perjalanan selama beberapa hari, minggu atau bulan. Tapi bagi keluarga yang satu ini, touring adalah hidup mereka. Sudah 11 tahun mereka touring keliling dunia nonstop.

Adalah pasangan Herman dan Candelaria Zapp yang telah melakukan touring panjang selama 11 tahun terakhir. Mobil tua yang sudah berumur 83 tahun bagai rumah berjalan. Pasangan ini sudah menempuh perjalanan keliling dunia mencakup empat benua sejauh 231.700 km tanpa henti. Bahkan empat anak mereka pun lahir dalam perjalanan panjang keliling dunia.

Mobil yang digunakan pun cukup unik yakni sebuah mobil berumur 83 tahun Graham-Paige lansiran 1928, bukan mobil baru yang modern. Namun mobil ini menjadi tempat tinggal pasangan ini bersama empat anaknya Pampa yang berumur delapan tahun, Tehue lima tahun, Paloma tiga tahun dan bayi Wallaby berusia satu tahun.

Meski sudah punya anak, alih-alih kembali ke kampung halaman untuk membeli rumah, pasangan ini malah memutuskan untuk tetap mengemudi dan menunjukkan keluarga mereka pemandangan dunia.

Herman sendiri adalah mantan praktisi TI kelahiran San Francisco yang berusia 42 tahun. Herman bersama istrinya Candelaria ,40, berangkat dari Argentina pada tahun 2000 dan mulai mengemudi dari Amerika Selatan ke Utara lalu berlanjut ke Australia, Selandia Baru dan sekarang Asia.

“Kami senang, kami memiliki segala hal yang pasangan muda inginkan, tapi kami merasa kami harus pergi,” kata Herman mengenang awal mula perjalanannya dikutip dari Daily Mail, Rabu (16/3/2011).

“Kakek saya tahu bahwa kami ingin melakukan perjalanan dan untuk tidak pernah berhenti, jadi dia memberi saya mobil Graham-Paige tua yang ia digunakan pada pertanian dan memberi saya beberapa saran. Dia bilang, ‘Jika Anda ingin pergi jauh, Anda perlu pergi perlahan-lahan’,” kenang Herman yang saat ini sudah sampai di Filipina.

Nah karena sejak masih berdua hingga punya empat anak pasangan ini sudha melakukan perjalanan panjang, keempat anaknya pun memiliki kebangsaaan yang berbeda-beda. Pampa lahir di North Carolina dan memiliki kebangsaan Amerika Serikat, sementara Tehue berkebangsaan Argentina. Adapun Paloma menjadi warga negara Kanada, sementara Wallaby merupakan warga negara Australia.

Setiap malam keluarga ini tidur dalam tenda yang dipasang di sebelah mobil mereka walau sering pula mereka bertemu warga lokal yang kemudian memberi tumpangan.

“Saya memiliki daftar 12.000 orang yang telah membantu keluarga saya selama 11 tahun terakhir. Hampir 90 persen dari waktu kita tinggal di rumah-rumah penduduk. Di Filipina kami berada di rumah keluarga yang hanya memiliki satu kamar,” ungkap Herman.

“Mereka memberi kami satu-satunya daging yang mereka punya untuk makan, tempat tidur mereka. Dan ketika kami meninggalkan, mereka meminta maaf karena tidak bisa membantu lagi,” katanya.

Sementara untuk pendidikan buah hatinya, Herman memiliki metode unik. Sebab anak-anak Herman disekolahkan melalui layanan on-line yang memberi mereka kurikulum yang ter-update secara rutin.

Setiap kali mereka berhenti dan berada dekat komputer, mereka akan mencetak pelajaran dari kelas terbaru dan mengajarkannya untuk anak-anak.

“Apa ada cara yang lebih baik bagi anak-anak saya untuk dididik dengan melihat dunia. Anak-anak saya telah melihat pesawat ulang-alik lepas landas dan memiliki kata yang berbeda dalam bahasa yang berbeda dan telah melihat begitu banyak budaya yang berbeda,” kata Herman.

(dtc/tiw)

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…