Rabu, 16 Maret 2011 19:20 WIB Pilkada,Sragen Share :

Dugaan pelanggaran menjelang pencoblosan marak

Sragen (Solopos.com)–Seorang warga asal Hadiluwih, Sumberlawang, HW, 69, mengaku menemukan praktik dugaan pelanggaran menjelang pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di desa setempat. Huri berinisiatif mencari bukti pelanggaran yang diduga dilakukan tim kampanye calon tertentu untuk dilaporkan ke Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada.

“Di desa saya ada tim “Srikandi” yang bergerak dari pintu ke pintu meminta KTP asli. KTP yang berhasil diminta diserahkan kepada koordinator mereka. KTP itu distaples dengan selembar uang Rp 50.000, kemudian KTP plus uang itu dikembalikan kepada orang yang bersangkutan,” ujar dia  saat dijumpai wartawan, Rabu (16/3). Praktik seperti itu, sambung dia, terjadi sejak dua hari terakhir.

Praktik yang terjadi di Desa Hadiluwih ditanggapi serius Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN), Mahmudi Tohpati. Legislator asal Tanon ini menilai ada indikasi kampanye di luar jadwal bagi tim pasangan calon tertentu di Hadiluwih. Dia mengatakan prakti pemberian uang melalui KTP itu patut dituding sebagai praktik politik uang.

“Saya menduga ada unsur ajakan memilih calon tertentu bagi warga yang dimintai KTP. Kemungkinan juga ada alat peraga yang dipakai. Persoalan ini jelas ada unsur-unsur kampanye mencuri start. Panwas diminta harus turun ke lapangan untuk menindaklanjuti perkara ini,” tegasnya.

trh

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…