Rabu, 16 Maret 2011 16:29 WIB News Share :

“Baru di Salatiga pembangunan mesjid kok bermasalah”

Salatiga (Solopos.com)–Proyek pembangunan Mesjid Raya Daarul Amal Salatiga yang terkatung-katung membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat angkat bicara.

MUI meminta pengelola mesjid untuk tidak mengandalkan dana dari APBD untuk menyelesaikan pembangunan dan mengelola mesjid yang menjadi salah satu ikon kota pendidikan tersebut. “Kalau hanya mengandalkan dana dari APBD hasilnya seperti ini. Kita harus menggali dana dari kalangan umat muslim Salatiga. Saya yakin kita mampu,” jelas anggota Bidang Dakwah MUI Salatiga, M Fauzi Arkhan, Rabu (16/3), di Kompleks Pemkot Salatiga.

Fauzi yang juga menjabat Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Salatiga ini, mengaku prihatin dengan kondisi mesjid yang diharapkan menjadi salah satu kebanggaan warga setempat.  Bangunan tiga lantai itu baru berdiri sekitar 70 persen padahal pembangunannya sudah dimulai sejak 2009. Terlebih lagi kondisi kebersihannya yang dinilainya buruk. “Baru kali pertama dan hanya di Salatiga pembangunan mesjid kok bermasalah,” sambungnya.

Fauzi berpendapat, pembangunan Mesjid Raya ini hanya dijadikan sarana politis bagi Walikota untuk memuluskan kebijakannya. Selain itu, pembangunan mesjid ini tidak dilihat sebagai proyek tempat ibadah yang perlu mendapat perhatian khusus. Namun proyek ini, seperti biasanya, hanya dijadikan proyek untuk mencari keuntungan. Lebih lanjut Fauzi mengharapkan agar pembangunan mesjid yang telah menelan anggaran senilai lebih dari Rp 8 miliar ini selesai sebelum Idul Fitri tahun ini.

Sementara itu, Pemkot Salatiga tahun ini menganggarkan dana sekitar Rp 2,8 miliar untuk menyelesaikan pembangunan Mesjid Raya yang sempat tertunda di tahun 2010 akibat persoalan perencanaan dan hukum.

(kha)

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…